Keranda jenasah Willi Mbuik saat di bawah ke tempat peristirahatan terakahir.

Pemkab Rote Ndao Antar Kepergian Wili Mbuik, Putri Rote yang Gugur Mengabdi di Papua

Tangis haru dan suasana duka menyelimuti prosesi penghormatan terakhir bagi Willi Mbuik, S.P., putri Rote Ndao yang gugur saat menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Minggu (14/09).

Keranda jenasah Willi Mbuik saat di bawah ke tempat peristirahatan terakahir.
Keranda jenasah Willi Mbuik saat di bawah ke tempat peristirahatan terakahir.

Jajaran ASN Pemerintah Kabupaten Rote Ndao turut mengantar kepergian almarhumah Wili Mbuik melalui upacara kedinasan sebagai bentuk penghormatan terakhir atas pengabdian putri daerah yang telah mengabdikan ilmu dan tenaganya bagi masyarakat di tanah Papua.

Upacara penghormatan tersebut dipimpin oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, Daniel Welhelmus Nalle, dan dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi NTT Noldy Hosea Pellokila, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTT Adi E. Mandala, Kapolres Rote Ndao AKBP Henry Eko Irawan, perwakilan Kodim 1627/Rote Ndao, perwakilan Lanal Pulau Rote, Para Pimpinan Perangkat Daerah, ASN Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, serta keluarga dan masyarakat yang hadir memberikan penghormatan terakhir.

ASN Rote Ndao Mengantar Putri Daerah ke Peristirahatan Terakhir

Almarhumah Willi Mbuik lahir di Mbaoen pada 29 November 2001. Ia meninggal dunia di Wamena pada 9 September 2026 dalam usia yang masih sangat muda.

Jenazahnya kemudian dimakamkan pada Minggu, 13 September 2026, melalui ibadah penguburan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Jemaat GMIT Elim Mbaoen Klasis Rote Barat Laut, Pdt. Lea R.P Suki-Dolpali, STh

Bagi jajaran ASN Kabupaten Rote Ndao, kepergian Wili bukan sekadar kehilangan seorang putri daerah. Ia adalah bagian dari keluarga besar aparatur negara yang telah memilih jalan pengabdian, bahkan harus mempertaruhkan nyawa ketika menjalankan tugas di wilayah yang memiliki risiko keamanan tinggi.

Kehadiran jajaran ASN dalam upacara kedinasan menjadi simbol bahwa pengabdian seorang ASN tidak berhenti ketika tugasnya berakhir, tetapi akan terus dikenang oleh institusi dan masyarakat yang ditinggalkannya.

Wili bersama dua rekan kerjanya, Aprida Rapi dan drh. Alfonsius Albinus Mehan, gugur ketika menjalankan pelayanan publik di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Ketiganya tengah melaksanakan tugas penyaluran bantuan ketahanan pangan bagi masyarakat di wilayah pedalaman.

Putri Mbaoen yang Mengabdi Jauh dari Kampung Halaman

Wili merupakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana dan penerima beasiswa Bidikmisi. Dari tanah Rote, ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar sarjana dan kemudian memilih mengabdikan ilmunya untuk masyarakat.

Jalan pengabdiannya membawanya jauh dari kampung halaman, hingga ke Papua Pegunungan. Ia pergi bukan membawa senjata, tetapi membawa tugas negara, ilmu pengetahuan, dan misi pelayanan kepada masyarakat. Namun, perjalanan pengabdian itu berakhir tragis.

Kepergian Wili meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, masyarakat Rote Ndao, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, serta seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Keluarga Minta Jaminan Keselamatan

Dalam suasana duka tersebut, keluarga menyatakan telah dengan hati penuh haru merelakan kepergian almarhumah Wili Mbuik.

Namun, dari mimbar duka, keluarga juga menyampaikan harapan sekaligus tuntutan agar pemerintah memberikan jaminan keamanan nyata bagi warga NTT lainnya yang masih berada di wilayah konflik.

Keluarga berharap Wili menjadi korban terakhir dari peristiwa tragis tersebut. Pemerintah dan aparat keamanan diminta mengambil langkah cepat untuk mengevakuasi atau memberikan perlindungan maksimal kepada warga NTT yang masih berada di daerah berisiko.

Mengenang Wili Berarti Menuntut Jaminan Keselamatan”

Wakil Gubernur NTT saat memberikan penguatan pada acara pemakaman almh. Willi Mbuik
Wakil Gubernur NTT saat memberikan penguatan pada acara pemakaman almh. Willi Mbuik

Dalam prosesi pemakaman, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menegaskan bahwa gugurnya Wili harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikan keselamatan warga sipil maupun para abdi negara yang menjalankan tugas di wilayah berisiko tinggi.

 

“Mengenang Wili berarti menuntut jaminan keselamatan bagi setiap manusia yang melangkahkan kaki ke pelosok negeri demi memajukan peradaban.”

 

Pemerintah Provinsi NTT juga menegaskan komitmennya untuk mengambil langkah terbaik demi memastikan keselamatan warga NTT yang masih berada di Jayawijaya dan menghadapi ancaman di wilayah konflik.

 

Hari itu, Rote Ndao tidak hanya menguburkan seorang putri daerah. Rote Ndao mengantar seorang ASN muda yang gugur dalam pengabdian.

 

Dari Mbaoen, langkah kecil seorang putri Rote pernah membawa harapan jauh hingga ke tanah Papua. Kini ia telah kembali ke tanah kelahirannya untuk beristirahat dalam damai.

Selamat jalan, Nona Wili Mbuik.

Pengabdianmu tidak akan pernah sia-sia. Namamu akan tetap dikenang sebagai putri Rote Ndao yang memilih mengabdi jauh dari tanah kelahiran, hingga akhir hayatnya. (PPID Utama_DKISP Kabupaten Rote Ndao)