Gereja Tua Laoholu

Terletak di Desa Oelua kecamatan Rote Barat Laut. Orang-orang yang ada di Nusa Dengka terlebih dahulu ada di Oelua. Pada waktu mereka mulai mengenal agama Kristen maka mereka membangun gereja pertama di Nusa Dengka pada tanggal 31 Oktober 1818 yaitu Gereja Loaholu Oelua.

Dan semua masyarakat Nusa Dengka datang berbakti di gereja tersebut karena belum ada gereja saat itu. Dan setelah tahun 1970-an baru dibangunnya rumah ibadat di wilayah masing-masing. Hingga saat ini Gereja Loaholu Oelua berdiri sebagai gereja induk yang dibangun pada zaman Belanda.

Gereja terdiri dari dua ruangan yaitu ruangan kebaktian dan ruang berdoa atau biasa disebut sebagai ruang konsistori. Dengan panjang gereja 25 meter dan lebar 11 meter 
disisi kiri gedung terdapat sebuah rumah yang terdiri dari dua ruang/kamar yang ditempati oleh pendeta dan keluarga. Luas tanah gereja ini adalah 2.626 meter persegi 
(75 x 35 meter).

 

Gereja Tua Menggelama

Nama Gereja Menggelama diambil dari nama sebuah dusun yang berjarak sekitar 1 kilometer  dari Pelabuhan Laut Baa, Ibukota Kabupaten Rote Ndao. Adanya Gereja Menggelama menurut Soh & Maria (2008;55), adalah karena andil seorang warna Belanda bernama Jackstein yang memindahkan sekolah dan rumah penduduk ke dusun menggelama. Selanjutnya, Jackstein digantikan oleh seorang pendeta pengganti P.Y. Penning yang berkedudukan di Ba’a; karena sakit Penning kembali ke Belanda dan digantikan oleh Van Malsen. Van Malsenlah yang kemudian membangun Gereja.

Gereja Menggelama didirikan selama 13 tahun yaitu pada kurun waktu 1880 sampai dengan tahun 1893. Namun, peletakkan batu pertama sebagai dasar untuk mendirikan sebuah gedung gereja yang pertama dibuat dari batu (tembok) (bisa dikatakan bahwa sudah  ada gereja di Rote namun belum terbuat dari batu (tembok) namun kemungkinan besar gereja yang ada masih dalam bentuk seperti rumah penduduk lokal yang umumnya terbuat dari kayu ) justru barulah dilakukan pada tahun 1882 sehingga dapat dikatakan bahwa gereja menggelama yang merupakan gereja pertama bertembok sebenarnya dibangun dalam kurun waktu 11 tahun dan diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1893. Gereja Menggelama dipugar untuk pertama kalinya pada tahun 1896 atau 3 tahun setelah gereja ini dibangun.

Saat ini Gereja Menggelama telah menjadi cagar budaya yang mendapat perhatian dari Pemerintah dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)

 

Istana Raja Rote

Objek Wisata ini terletak tepat di jantung kota Ba’a yaitu di Kelurahan Namodale, Kec. Lobalain dan merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda. Sekarang ini dijadikan Istana Raja Rote (Raja Kedoh).

 

Bangkai Pesawat Tempur Jepang

Bangkai Pesawat Tempur Jepang; jatuh di Papela pada tahun 1942. Peninggalan ini merupakan bentuk bukti penjajahan Portugis dan Jepang dan berada di Desa Mukekuku, Kec. Rote Timur yang berjarak + 65 km dari kota Ba’a dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor + 1 jam.

 

Jangkar Magelhaens

Jangkar Magelhaens merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Portugis yang karam di Desa Faifua, Kec. Rote Timur pada tahun 1940. Berjarak + 70 km dari kota Ba’a dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor + 1 jam 15 menit.

 

Rumah Raja Thie

Salah satu Rumah Raja yang berusia 80 tahun yang masih dijaga keasliannya hingga sekarang dan terletak di dusun Tuasu’uk, Desa Oebafok, Kec. Rote Barat Daya, ± 14 km dari kota Ba’a. Dapat ditempuh dalam waktu + 20 menit dengan kendaraan. Rumah ini merupakan rumah raja ke-7 setelah rumah batu.

Pembangunan rumah raja ini dilakukan oleh Raja Thie A. W. Messakh pada tahun 1930 dengan tujuan menghentikan perang saudara antara kerajaan Thie dengan kerajaan Dengka. Bangunan ini dibangun diantara perbatasan kedua kerajaan karena sering terjadi peperangan. Dan cara lain untuk menyatukan kedua kerajaan ini yaitu dengan kawin mawin. Raja Dengka mengawinkan puterinya dengan putera Raja Thie dan puteri Raja Thie dikawinkan dengan putera Raja Dengka. Sehingga peperangan yang terjadi berangsur berkurang bahkan sudah tidak pernah terjadi lagi peperangan atau pencurian antara kedua kerajaan ini.

Rumah adat ini awalnya tidak mempunyai daun pintu dan jendela, tahun 1999 direnovasi oleh pemiliknya bangunan tersebut terbuat dari bahan kayu gula dan batang lontar dan terdiri dari tiga lantai. Lanta 1 yaitu lantai dasar sebagai tempat penyimpanan kembang gula dan padi, lantai 2 sebagai tempat tidur dan pertemuan raja, lantai 3 sebagai tempat penyimpanan hasil bumi seperti rempah-rempah.

Rumah ini juga ada dua tangga namun waktu direnovasi kembali, tangga besar hanya dibuat jadi satu tangga, yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai 2. Luas bangunan adalah 70 x 60 meter.

 

 

Batu Termanu

 

Cerita Rakyat Rote Ndao

Batu Termanu terletak di Nusak Termanu, Kecamatan Rote Tengah. Batu ini terdiri dari dua batu yaitu Batu Hun dan Su’a Lain. Keduanya juga disebut Batu Mbadar atau Batu Bapa la. Kini Batu Termanu menjadi objek pariwisata di Pulau Rote.

Menurut legenda Batu Hun adalah laki-laki, sedangkan Su’a Lain adalah wanita. Batu Hun terletak di sebelah barat, sedangkan Su’a Lain di sebelah timur, keduanya berdekatan dan merupakan sepasang suami isteri.

Kedua batu tersebut merupakan batu pengembara. Asal mereka dari Ti Mau (Amfoang). Ada yang bilang mereka berasal dari Maluku/Seram. Karena dipicu oleh konflik masalah harta pusaka maka mereka memilih untuk mengembara.

Awalnya mereka mengembara sampai di Ndao, namun lingkungan hidup disana tidaklah harmonis. Mereka pun diusir. Mereka mengembara ke Lole dan disana mereka memperanakkan seorang anak yang dinamai Nusa Lai (kini sebuah pulau di sebelah selatan Lole).

Setelah beberapa lama waktunya terjadi pula pertengkaran dengan lingkungan di Lole. Maka mereka pun mengembara dan sampailah di Termanu. Di sinilah mereka menetap sampai sekarang.

Kedua batu tersebut khususnya Su’a Lain menjadi tempat berdoa bagi masyarakat Termanu. Dalam ibadah bersama manasonggo (imam animis) masyarakat biasanya membawa hewan dan bahan pangan/beras sebagai persembahan ke Su’a Lain.

Beras/nasi ditanak dan hewan disembelih serta hati dan bulu hewan dipersembahkan ke Su’a Lain, sedangkan sisanya mereka makan beramai-ramai. Bahasa adat untuk persembahan ini adalah ‘leu ke batu’ dengan tujuan untuk memohon kepada Dewata supaya ada curah hujan yang cukup di Bumi.

Nilai moral yang dapat diambil dari cerita ini adalah dimana pun kita tinggal walaupun bukan di lingkungan keluarga hendaklah kita memandang tetangga sebagai kaum kerabat kita. Sikap saling menghormati dan menghargai haruslah dipupuk. Sikap bermusuhan hendaklah dijauhkan sehingga hidup terasa aman.

 

Kompleks Kuburan Raja

Kompleks kuburan Raja Kerajaan Keempat ini di bangun menghadap kelaut timor ( oli dale dalam bahasa Lole ).Dan disinilah merupakan tempat peristirahatan terakhir 2 Raja Lole ; Raja keempat yang bernama KILA PELO ( dengan nama baptis Danial Petrus Zacharias) dan anak keduanya yang menjadi Raja Lole dengan nama PAU KILA (nama baptis Paulus Semuel Zacharis).

Cerita sejarah kuburan-kubuuran ini diingatnya melalui tutur kata saja dari generasi kegenerasi oleh masyarakat Bebalain. Menurut keluarga Zacharias ada beberapa catatan sejarah dalam bahasa Belanda dan satu buah buku yang salinannya sangat sulit ditemukan. Dan buku ini di pegang oleh salah satu keluarga dikupang (yang memegang sejarah keluarga Zacharias).Zacharias adalah marga dari turunan Raja.

Dikompleks kuburan Raja ada beberapa kuburan juga yakni kuburan Raja dan keluarga ada juga kuburan pembantu, pengawal Raja, namun adapun pembatas antara kuburan raja dan kuburan pembantu dan pengawal dengan menggunakan batu.

Kuburan ini dibuat dengan batu nisan disebelah barat dan badan kubur disebelah Timur. Tingginya dibuat berdasarkan status dimana kuburan tertinggi adalah kuburan Raja( KILA PELO dan PAU KILA). Ada 7 kuburan yang masih bisa terlihat jelas,dan ada beberapa yang sudah runtuh akibat serangan alam. Batu-batu pembatas kuburan keluarga Raja dan pembantu serta pengawal tidak tampak tarlalu jelas dan hampir rata dengan tanah.

Berdasarkan keterangan dari Paulus Zacharias (anggota keluarga Zacharias) pada akhir Tahun 2012 kompleks kuburan ini dibersihkan guna menyambut hari Natal tiba. Dalam tradisi orang Rote, acara pembersihan kuburan seperti ini akan dirangkai dengan peletakan sirih pinang dan Tabur Bunga. sebagai tanda mengenang kembali atau memberi ucapan selamat kepada orang yang kita cintai.

Dan pada saat sekarang masyarakat Bebalain kurang begitu peduli dengan kedaan kompleks kuburan ini karena waktu mereka sangat terbatas, semuanya sibuk bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup “ ini kuburan sekarang sonde terurus lagi, kerena katong semua sibuk dengan kerja” ujar Paulus Zacharis. “katong sonde ada uang untuk buat ini kuburan” LanjutPaulus. rif@pde15

 

 Bukit Mando’o

Dipulau Rote salah satu obyek wisata terkenal yaitu Bukit Mando’o dan juga merupakan wisata kebanggan suku Lole. Apabila kita berdiri dipuncak Mando’o kita dapat melihat pesona kawasan pantai dan permukiman Desa Kuli yang eksotis. Hamparan laut yang bernuansa biru dan hijau menyatu dengan pohon bakau yang rimbun. Diarah utara kita juga dapat melihat bukit yang menjulang keatas yang diselimuti dengan pohon-pohon yang begitu indah. Untuk menuju bukit kita harus melewati anak tangga yang jumlahnya 388. Inilah yang menyebabkan Bukit Mando’o lebih dikenal dengan sebutan Tangga 300.

Selain dengan pesonanya alamnya yang begitu indah bukit Mando’o juga memiliki sejarah, dimana pada zaman dahulu Raja Lole pernah mendiami bukit Mando’o dan membangun kerajaan diatas bukit tersebut. ”dahulu raja lole pernah tinggal diatas”  keterangan dari om BILI penjaga Bukit Mando’o.rif@pde15

Pantai Dombo

Pantai Dombo atau biasa disebut (pantai salaek dale) berada di Desa kuli kecamatan Lobalain. Pantai ini menyajikan air yang tenang dengan pasir putih serta rimbunan pohon- pohon dan hutan bakau yang indah. Disebelah Pantai Dombo (pantai Salaek Dale) ada juga lapangan bola yang setiap sore pemuda-pemuda menggunakan waktu berolahraga. Dari Pantai Dombo (pantai Salaek Dale) sekitar 2 kilo meter dapat dilihat puncak Mando’o karena pantai tersebut dibawah Bukit Mando’o. Dan untuk tiba di Pantai Dombo (Pantai Salaek Dale) pengunjung harus melewati jalan Bukit Mando’o karena searah.rif@pde15

Tanjung Nggolo (Tanjung pole)

Tanjung Nggolo (Tanjung pole) yang terletak di Desa Dodaek, kecamatan Rote Selatan Merupakan tempat wisata terselatan pulau Rote dan titik terseletan Indonesia. Tempat ini memiliki keunikan pantai yang begitu indah dan daratan yang luas serta pohon-pohon yang rimbun. Tidak kalah pentingnyaTanjung nggolo (Tanjung Pole) juga memiliki cerita sejarah “dimana pada zaman dahulu ada sebuah kapal layar terdampar di area Tanjung tersebut dan tidak dapat kembali ketempat asal.

Mereka lalu mendirikan Rumah diatas karang dan mendiami pantai itu. Bulan berganti bulan serta tahun berganti tahun mereka tetap berada ditempat itu dan pada akhirnya kapal yang mereka tumpangi yang dulunya terbuat dari kayu kini menjadi Batu hingga sekarang. Dan pada saat ini tempat tersebut sudah tidak berpenghuni “sekilas wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat yakni Daud Huan.

Dan dilanjutkan oleh pj.kepala desa beliau menjelaskan bahwa pada tanggal 07 Oktober 1992 TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Darat membuat titik terselatan Indonesia berupa sebuah pilar, yang mana bahan-bahannya diangkut oleh Helikopter dari atas kapal yang berada ditengah Laut. Demikian penjelasan singkat dari pj.Kepala Desa dodaek . Taf Tinus Taek.rif@pde15