kemah guru 2016

Kemah Guru Sejarah SMA/SMK se-Indonesia di Rote Ndao Dibuka

kemah guru 2016Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, itulah Indonesia, dari barat ke timur dan utara hingga ke selatan, Indonesia berdaulat sebagai sebuah negara dan di pulau Rote ini yang merupakan garis terdepan disisi selatan nusantara ini, semua berkumpul disini dengan tidak memandang latar belakang dan tidak memperhitungkan kesukuan untuk melakukan kegiatan yang bertajuk “Kemah Guru di Wilayah Perbatasan” yang merekrut para guru sejarah SMA/SMK sederajat dan guru IPS SMP untuk bersama-sama terlibat dan menjadi bagian dalam mengembangkan wilayah perbatasan dengan melakukan pengamanan partisipasi dan observasi kawasan tingkat nasional dengan tema “Melintas Sejarah dan Merayakan Kebhinekaan” yang akan dilaksanakan dari tanggal 25-29 Agustus 2016 bertempat di Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao.
Menurut Ketua Panitia, Drs. Edy Suwardi,M.Hum dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengatakan bahwa salah satu syarat mengikuti kemah guru ini adalah guru garis depan perbatasan yang berprestasi yang telah dinilai oleh Dinas PPO setempat, belum pernah mengikuti kegiatan kawasan, sehat jasmani dan rohani dengan usia antara 25 sampai 45 tahun.

Kegiatan kali ini merupakan ke-enam kalinya dilakukan, yang sebelumnya pada tahun 2010 di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia, tahun 2011 di Kabupaten Kerimun, Kepulauan Riau, berbatasan dengan Singapura, tahun 2012 di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku yang berbatasan dengan Australia, tahun 2013 di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Malaysia dan tahun 2014 di Kabupaten Belu, NTT berbatasan dengan Timor Leste.

Kegiatan kemah guru ini dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para guru tentang dinamika masyarakat didaerah perbatasan baik secara geografis, sosial, ekonomi dan budaya dengan mendorong para guru untuk peduli terhadap permasalahan diperbatasan sehingga memacu kreatifitas dan motivasi para guru untuk ikut serta melalui ide dan gagasan terhadap kondisi diwilayah perbatasan. kata Edy Suwardi

Edy Suwardi juga mengatakan peserta kemah guru akan melakukan beragam aktivitas seperti dialog dengan para narasumber, diskusi, mengunjungi beberapa objek sejarah dan budaya di pulau Rote diantaranya direncanakan ke titik perbatasan di pulau Ndana tetapi karena situasi tidak memungkinkan sehingga ke Oeseli, Lanal Pulau Rote, Istana Raja Rote, pusat pembuatan sasandu, rumah ibadah bersejarah, kampung nelayan, kampung bajo, pantai Bo’a dan pusat pembuatan gula nira serta akan melakukan praktek mengejar dibeberapa sekolah.

Sementara itu, Direktur Sejarah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dra. Triana Wulandari,M.Hum, mengatakan bahwa ini adalah titik ketertautan, ke-Indonesiaan kita bahwa dari seluruh titik-titik yang ada di Indonesia hadir di Rote Ndao dengan menggunakan pakaian tradisional sebagai ciri khas daerah masing-masing sebagai ekspresi dari kebhinekaan dalam rajut ke-Indonesiaan.

Lanjut Triana, kegiatan kebhinekaan tidak sekedar aksesoris dalam menggunakan pakaian tradisional tetapi bapak/ibu guru sejarah ini menjadi ujung tombak dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme dengan memberi pelajaran sejarah kepada anak didik dengan rasa cinta tanah air dengan memberi informasi dan pengetahuan tentang keberadaan diwilayah perbatasan.

Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning,MM juga dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini di Rote dirubah menjadi Indonesia mini karena dari semua titik di Indonesia berada di Rote Ndao, titik terselatan Indonesia, dengan meninggalkan tempatnya semula dan pasti saat ini merasakan adanya sesuatu yang baru, karena manusia dalam peradabannya pasti mengalami perubahan demi perubahan.

Lebih lanjut Bupati mengatakan bahwa manusia dalam peradabannya akan mengalami beberapa hal dalam hidupnya yang perlu dipelajari dari alam ini yaitu belajar dari kitab suci masing-masing supaya dapat memiliki kasih yang sempurna dalam diri kita masing-mamsing untuk mengasihi sesama tanpa dibeda-bedakan, belajar pula dari padi yang bisa merunduk supaya dari situ kita bisa menemukan bagaimana mempunyai kerendahan hati dalam berkomunikasi dengan sesama. Belajar dari matahari yaitu jadi babu atau tukang masak untuk kebutuhan hidup makluk hidup lainnya. Belajar juga dari batu supaya kita bisa tegar menghadapi persoalan kehidupan itu sendiri. Belajar juga dari air supaya dapat memberi kehidupan bagi yang patut menerimanya serta belajar pula dari bulan bintang dimalam hari walaupun kecil tetapi dapat memberi keindahan serta cahaya.

“tetapi tetaplah belajar dari ibu/bapak guru karena mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa tetapi jasa mereka tidak dapat diukur dengan apapun juga, karena mereka rela berada dipelosok-pelosok, mereka rela tinggalkan destinasinya yang luar biasa dan berada di daerah perbatasan, terpencil bahkan dipulaup-pulau yang terbatas penghuninya”. kata Bupati Lens Haning.(kpad_pde)

 

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *