Jumlah Orang dari Area Risiko (OAR) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang dikarantina di Rumah Susun (Rusun) Ne’e, Desa Sanggaoen, Kecamatan Lobalain, hingga Minggu 29 Maret 2020 bertambah menjadi 17 orang dari jumlah sebelumnya 12 orang.

Demikian rilis Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao yang ditandatangani Kepala Bagian Umum, Humas, dan Protokol Setda Rote Ndao Handryans Bessie, yang diterima media ini, Minggu (29/3) petang.

Dalam rilis tersebut, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao dr. Widyanto P. Adhy,Sp.PD menjelaskan, Gugus Tugas Covid-19 secara aktif terus melakukan pemantauan terhadap OAR dan ODP, baik yang melaksanakan karantina mandiri di rumah, maupun di Rusun Ne’e. Langkah ini dilakukan untuk bisa memantau secara simultan OAR dan ODP yang menjalankan karantina secara disiplin, sesuai protokol yang telah ditetapkan.

Menurutnya, update perkembangan penanganan kasus Covid-19 hingga Minggu 29 Maret 2020, pukul 18.00 WITA,  sebagai berikut: jumlah ODR (Orang yang Diperiksa di Rumah) sebanyak 318 orang dan ODP 27 orang. 318 ODR terdiri dari 227 OAR, 85 KR (orang kontak risiko rendah) dan 6 KT (orang dengan kontak risiko tinggi)Sementara  yang masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect, maupun Positif Corona belum ada.

Khusus untuk OAR dan ODP yang ditempatkan dalam karantina yang pada Sabtu, 28 Maret kemarin sebanyak 12 orang, hari ini bertambah jumlahnya menjadi 17 orang, dengan rincian OAR sebanyak 13 orang dan ODP sebanyak 4 (empat )orang.

“Hari ini lima orang yang dimasukkan ke karantina di Rusun Ne’e guna dipantau secara baik gejala klinisnya, guna meminimalisir penyebaran Covid-19 ke wilayah Kabupaten Rote Ndao,” kata dr. Adhy.

Menurutnya, penambahan jumlah OAR dari 270 orang menjadi 318 orang disebabkan masih berdatangan orang  dari luar Rote Ndao melalui Bandara maupun pelabuhan laut. Sedangkan penambahan jumlah ODP dari 25 orang menjadi 27 orang disebabkan faktor masih belum disiplin dalam menerapkan jaga jarak dan karantina mandiri yang sangat penting dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19.

“Penambahan jumlah OAR tersebut disebabkan karena orang masih berdatangan dari luar daerah melalui Bandara maupun pelabuhan laut, serta ODP masih belum disiplin dalam menerapkan protokoler karantina mandiri,” katanya.

Sementara itu, jelas dr Adhy,  hasil pemantauan dan pemeriksaan yang dilakukan tim medis RSUD Ba’a bekerja sama dengan sejumlah Puskesmas terhadap OAR dan ODP yang dalam isolasi di Rusun Ne’e serta yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing, menunjukkan perbaikan gejala klinis.

Mencermati kondisi peningkatan jumlah OAR dari hari ke hari, kata dia, maka mengacu pada  ketentuan Peraturan Bupati Rote Ndao Nomor 10 Tahun 2020, Gugus Tugas Covid-19 Rote Ndao mengimbau khusus kepada Orang dari Area beRisiko (OAR) agar tidak masuk ke Kabupaten Rote Ndao untuk sementara waktu. Ini penting agar Pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Gugus Tugas Covid-19 bisa menekan angka transmisi lokal, mengingat siapa saja dari area terjangkit Covid-19 bisa terinfeksi penyakit ini.

Masih menurutnya, semua Alat Pelindung Diri (APD) yang ada di Rote saat ini sangat terbatas, termasuk obat tatalaksana Covid-19, rapid test, dan cairan antiseptik, sehingga Gugus Tugas Covid-19 masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Ia menambahkan, hari ini, Minggu 29 Maret 2020, Gugus Tugas Covid-19 melakukan evaluasi internal dan mempersiapkan sistem pemantauan terpadu untuk penegakkan protokol-protokol di lapangan sesuai Keputusan Bupati Rote Ndao Nomor 140/KEP/HK/2020. Penegakkan protokol ini penting dan sudah sesuai dengan himbauan Presiden Republik Indonesia agar masyarakat mendisiplinkan diri dan mengikuti instruksi pemerintah dan pemerintah daerah.

Dikatakan dr. Adhy, dalam pencegahan Covid-19 banyak yang mengira bahwa petugas kesehatan adalah garda terdepan, tapi dalam kasus Covid-19, paramedis bukanlah garda terdepan. Kami berdiri pada garis pertahanan terakhir. Untuk itu, mari Bersama kita ubah paradigma berpikir bahwa dalam pencegahan Covid-19, ujung tombaknya adalah Bapa/Mama/Basodara semua sebagai masyarakat. “Gugus tugas Covid-19 Rote Ndao dan paramedis sangat mengharapkan masyarakat berperan aktif utk memerangi Covid-19 ini dengan menjaga jarak, tinggal di rumah dan menjaga kesehatan sesuai protokol-protokol yang ada.

“Keberhasilan pencegahan Covid-19 sangat tergantung pada Bapa/Mama/To’o/Te’o/Basodara semua. Oleh karena itu, kami berharap agar masyarakat berperan aktif dalam melaporkan keberadaan Orang dari Area beRisiko termasuk yang mengalami gejala batuk/pilek/sakit tenggorokan/sakit kepala kepada Kepala Desa/Lurah dan Camat setempat untuk diteruskan ke Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao,” ujarnya.

Untuk mengikuti perkembangan COVID-19 di Kabupaten Rote Ndao dapat dilihat melalui website Pemerintah Kabupaten Rote Ndao https://rotendaokab.go.id/covid-19 dan laman Facebook Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Rote Ndao: https://www.facebook.com/Gugus-Tugas-Covid-19-Rote-Ndao-104121847900018/. (humaspemdaRN)