1418275343672288894

ANAK SULIT MAKAN? ini solusinya

“Anak saya sulit makan, Mbak,” kata seorang ibu. Saya spontan bengong. Lha wong si anak ada di sampingnya tengah nyomal-nyamul makan apem dengan nikmatnya. Kayak gitu sulit makan?

Sepertinya sulit makan di sini diartikan ’sulit makan nasi’, ’sulit makan sayur’, ’sulit makan makanan rumah’. Ya iyalah! Kalau sudah makan kue apem, wajar saja si anak nggak bakal mau makan sayur. Selain sudah keburu kenyang, sayur juga tidak seenak apem.

Makan sepertinya menjadi masalah yang penting banget –atau malah paling penting—bagi emak-emak yang punya anak kecil. Saking pentingnya nih, kalau si emak bekerja, maka ia akan sering telepon pengasuh anak di rumah dari tempat kerja. Dan pertanyaan pertama dalam teleponnya adalah, “Adek udah makan belum, Mbak?” Selanjutnya adalah, “Banyak nggak makannya? Makan apa aja?”

Sepenting itukah ‘makan’? Ada seorang ibu yang tiap kali anaknya nggak doyan makan langsung ke dokter. “Saya takut anak saya sakit.” Dokternya geleng-geleng. Apa pasal? Si anak ini sudah masuk kategori overweight. Ada pula ortu yang bilang, “Kalau sakit tuh saya nggak maksa anak saya buat minum obat, yang penting makan banyak.” Aduh, mak, kalau kita sakit aja, apa kita doyan makan? Ortu nggak sekadar menekankan pentingnya makan, tapi juga pentingnya makan BANYAK.

Segala macam cara dilakukan ortu agar anak doyan makan (banyak), mulai dari dijejali, disuapin sambil muter-muter kampung, dikasih multivitamin, sampai dicekokin dengan jamu. Saya pernah menyaksikan seorang ibu jungkir balik (dalam arti sesungguhnya) menyuapi anaknya.

Kalau anaknya duduk, si ibu ikut duduk, anaknya nungging, si ibu membungkuk, anaknya berkelit, ibunya meliuk. Ini makan atau akrobat? Saya alhamdulillah tidak pernah mendapat kesulitan yang berarti soal makan ini. Menurut anggapan saya, sih. Begitu buka mata di pagi hari, pertanyaan pertama yang terlontar dari anak saya (3,5 tahun) adalah, “Bu, ada makanan apa?” Anyway, saya mau membagi pengalaman saya soal makan ini. Ini pengalaman empiris ya, jadi jangan dijadikan rujukan ilmiah (disclaimer duluan deh).

1. Start right Kebiasaan anak makan dibentuk sejak mula sekali.

Sejak ia lahir. Mulailah dengan ASI saja hingga usia anak enam bulan. Banyak sekali alasan mengapa harus menunggu enam bulan, silakan Google saja. Selanjutnya lengkapi dengan makanan pendamping ASI yang alami, beragam, TANPA gula garam hingga usia anak minimal setahun –lebih juga boleh, kalau bisa sampai tua bagus banget tuh hehe–.

Ini terbukti sangat ampuh. Saya merasa ‘gagal’ dalam periode ini karena kurang memperkenalkan keragaman makanan pada anak saya, misalnya kurang memperkenalkan tahu tempe. Sampai sekarang anak saya susah makan tahu tempe. Tapi ya sudahlah, ini pelajaran. Toh, saya takjub ketika sudah tiga tahun lebih dan sudah merasakan ‘makan enak’ anak saya masih doyan kacang panjang rebus dan brokoli rebus tanpa tambahan bumbu apa pun.

Tekstur juga perlu diperhatikan. Terlalu lama anak dibiarkan makan makanan lunak seperti bubur atau nasi tim membuat mereka malas mengunyah. Malas mengunyah ini dampaknya banyak lho mulai terhambatnya pertumbuhan gigi sampai keterlambatan bicara.

2. Makan tidak harus nasi Sebagai orang Indonesia udah melekat dalam benak kita makan itu ya makan nasi.

Kalau ada pertanyaan ‘Udah makan?’ itu maksudnya makan nasi, bukan makan bakpao atau makan mi. Bakpao itu snack. Ini kadang yang dilupakan ortu. Makan tidak harus dengan nasi. Kalau anak sudah makan ubi rebus di pagi hari, ya sudah. Kebutuhan karbohidrat untuk hari itu sudah cukup. Tidak usah resah kalau seharian dia tidak makan nasi atau karbohidrat lainnya.

3. Susu, musuh nafsu makan “Anak saya nyusunya kuat, lho,” kata seorang ibu dengan bangga. “

Anak saya nggak doyan makan, jadi terpaksa saya kasih susu. Takut kurang gizi,” kata ibu yang lain. Aduh, belum-belum saya sudah lemes ngitung, itu ibu habis berapa ratus ribu sebulan hanya buat membeli susu. Belum lagi kalau si anak maunya susu merek premium (yang kadang juga menambah bangga ortunya).

Biaya susu ini bisa ditukar dengan beberapa kilo ikan atau sekarung sayuran. Dijamin Bu, kalau sudah minum susu, nafsu makan anak akan semakin lenyap. Kita orang dewasa saja kalau sudah minum segelas susu bakal ogah makan. Akhirnya jadi lingkaran setan deh.

Anak minum susu, jadi nggak doyan makan. Karena anak nggak doyan makan, ortu cemas. Karena ortu cemas ia memberikan susu supaya anak tercukupi gizinya. Karena anak sudah diberi susu, dia males makan. Gitu terus. Hm, apa benar kalau anak cuma minum susu tanpa makanan lain, maka gizinya akan tercukupi? Susu selama ini dianggap minuman ‘ajaib’ dan wajib bagi anak.

Apakah memang seperti itu? Menurut teori ilmiah, setelah satu tahun, anak tidak butuh susu hewani. Susu memang mengandung kalsium. Vitamin yang lain biasanya ditambahkan. Coba deh lihat kemasan susu, biasanya ada tulisan ‘enriched with’ atau ‘fortified with’ alias ‘diperkaya dengan’ lalu ada list segambreng vitamin dan zat bergizi lainnya. Sebenarnya kata ‘enriched with’ atau ‘fortified with’ itu pengakuan bahwa susu tidak mengandung semua zat itu secara alamiah, tapi hanya ditambahkan.

Yang perlu kita ingat adalah semua zat gizi itu bisa dengan mudah kita temukan pada makanan lain. Kalsium ada pada daging dan sayuran. Asam lemak semacam AA dan DHA ada pada ikan (btw, sebenarnya AA dan DHA itu apa, sih? Latah benar yak kita ini. Asal terdengar rumit dan ilmiah, udah kita anggap top). Vitamin ada dalam buah. So, nggak perlu cemas kalau anak nggak minum susu. Justru batasilah konsumsi susu hingga anak bisa makan gizi seimbang.

Susu adalah protein hewani, setara dengan daging, ikan, dan ikan. Menurut piramida makanan, porsinya hanyalah satu potong tiap hari. Kalau sudah dapat daging ayam hari ini, ya susunya lain kali saja. Edited. Masalah lain dari susu adalah bentuknya yang lunak dan rasanya yang manis. Terlalu banyak mengonsumsi susu membuat anak malas mengunyah dan ketagihan rasa gurih manis. Hal senada berlaku pada turunan susu, seperti keju.

Sering sekali ada pertanyaan di grup emak-emak, kapan anak boleh makan keju? Apa merek keju terbaik? Keju jenis apa yang baik dikonsumsi? Aha, memangnya anak butuh makan keju? Nanti nyesel lho kalau anak ketagihan keju. Padahal harga secuil keju kecil bisa dapat pecel lele. Oke deh, kali ini cukup segini dulu ya. Masih banyak tips soal anak ogah makan. Kapan-kapan akan saya posting lanjutannya.

[kompsiana]
bappeda-rote-ndao_363677255_n-300x160

Bappeda Gelar ASMARA Tata Ruang Kota Ba’a

 


Lekioen, ROOL • Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Rote Ndao, Selasa (4/11) kemarin  menjaring Aspirasi Masyarakat (ASMARA) dengan sejumlah Lurah, Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat di Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao yang berlangsung di Aula Kantor Camat Lobalain tentang Penyusunan Rencanan Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi perkotaan Ba’a Kabupaten Rote Ndao, periode 2015-2023.

phoca_thumb_l_rumah-raja-thie

Rumah Raja Thie J. A. Messakh

Salah satu Rumah Raja yang berusia 80 tahun yang masih dijaga keasliannya hingga sekarang dan terletak di dusun Tuasu’uk, Desa Oebafok, Kec. Rote Barat Daya, ± 14 km dari kota Ba’a. Dapat ditempuh dalam waktu + 20 menit dengan kendaraan. Rumah ini merupakan rumah raja ke-7 setelah rumah batu.

Pembangunan rumah raja ini dilakukan oleh Raja Thie A. W. Messakh pada tahun 1930 dengan tujuan menghentikan perang saudara antara kerajaan Thie dengan kerajaan Dengka. Bangunan ini dibangun diantara perbatasan kedua kerajaan karena sering terjadi peperangan. Dan cara lain untuk menyatukan kedua kerajaan ini yaitu dengan kawin mawin. Raja Dengka mengawinkan puterinya dengan putera Raja Thie dan puteri Raja Thie dikawinkan dengan putera Raja Dengka. Sehingga peperangan yang terjadi berangsur berkurang bahkan sudah tidak pernah terjadi lagi peperangan atau pencurian antara kedua kerajaan ini.

Rumah adat ini awalnya tidak mempunyai daun pintu dan jendela, tahun 1999 direnovasi oleh pemiliknya bangunan tersebut terbuat dari bahan kayu gula dan batang lontar dan terdiri dari tiga lantai. Lanta 1 yaitu lantai dasar sebagai tempat penyimpanan kembang gula dan padi, lantai 2 sebagai tempat tidur dan pertemuan raja, lantai 3 sebagai tempat penyimpanan hasil bumi seperti rempah-rempah.

Rumah ini juga ada dua tangga namun waktu direnovasi kembali, tangga besar hanya dibuat jadi satu tangga, yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai 2. Luas bangunan adalah 70 x 60 meter.

raja-rote-joel-simon-kedoh-dan-permaisuri-regina-amalo

Pakian Adat

Laki-laki :

Ti’i langga sebagai topi, Selimut yang deselempangkan di bahu kanan, Selimut (hafa) yang dililitkan di pinggang, dan Habas yang dikalungkan di leher.

Ti’i Langga

Ti’i Langga Topi khas Rote yaitu  Ti’i langga, yaitu penutup kepala yang berbentuk mirip dengan topi sombrero dari Meksiko.

Ti’i langga merupakan aksesoris dari pakaian tradisional untuk pria Rote. Tetapi pada saat-saat tertentu,  misalnya pada saat menarikan tarian tradisonal foti 

Ti’i langga terbuat dari daun lontar yang dikeringkan. Karena sifat alami daun lontar yang makin lama makin kering, maka ti’i langga pun akan berubah warna dari kekuningan menjadi makin cokelat. Bagian yang meruncing pada topi tersebut makin lama tidak akan tegak, tetapi cenderung miring dan sulit untuk ditegakan kembali.

Konon hal tersebut melambangkan sifat asli orang Rote yang cenderung keras. Selain itu, ti’i langga juga merupakan simbol kepercayaan diri dan wibawa pemakainya.

 

Perempuan :

Bula Molik (bulan sabit) dipakai di kepala wanita, Selempang, Sarung, Pendi (ikat pinggang wanita) terbuat dari perak/emas, dan Habas yang dikalungkan di leher.

 

tiang-bendera2

Tiang Bendera di Desa Baadale

Obyek Wisata ini terletak di Ba’a Dale, Kec. Lobalain Kabupaten Rote Ndao. Untuk mencapai tempat ini dari ibukota Baa harus menempuh perjalanan + 5 km, ditempuh dengan kendaraan bermotor + 10 menit.

Tempat ini mempunyai kemiripan dengan Tanah Lot di Bali dimana ketika air laut surut maka kita dapat berjalan kaki menuju batu di atasnya terdapat Tiang Bendera yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1939. Tuguh tersebut masih dalam keadaan kokoh hingga sekarang.

Aktivitas: Untuk menjelajah lokasi ini anda dapat menghubungi penjaga situs yang stand by di lokasi/guide.

Akomodasi: Untuk penginapan dapat menginap di Ba’a sebab di sekitar lokasi tidak ada penginapan. Hotel yang tersedia di Ba’a seperti Hotel Grace dan Hotel Ricky sebagai hotel terbaik di kota ini. Harga kamar berkisar antara Rp .75.000 s/d Rp. 200.000/malam Anda dapat menghubungi pemilik Hotel Grace dengan nomor 081339317784 dan Hotel Ricky dengan nomor 081339233537.

Selain itu masih terdapat banyak penginapan kelas melati dengan harga terjangkau.

Kuliner: Tidak ada tempat makan di sekitar lokasi sehingga anda diharapkan membawa makanan ringan saat menuju lokasi. Tetapi anda dapat memperoleh banyak rumah makan di pusat ibukota kabupaten yang hanya jarak 5 km dari situs.

Transportasi: Untuk menjangkau ke lokasi dari kota Ba’a anda dapat menggunakan jasa Travel, bemo, atau menyewa ojek dengan biaya Rp 20.000,-

20170218_115715-01

Panorama Batu Termanu

                                                                        

Ada 2 Batu Termanu yakni Batu Hun dan Batu Suelai, merupakan Obyek Wisata Alam yang sangat memukau ketika perkunjungan wisatawan yang datang ke Kabupaten Rote Ndao. Terletak di Kec. Rote Tengah dengan jarak tempuh 15 menit dari ibukota Baa dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Saat kapal motor keluar dari Pelabuhan Bolok Kupang yang melewati selat Pukuafu dan pertama dilihat adalah Batu Termanu yang menjulang tinggi yaitu Batu Hun. Di sekitar perairan, Batu Hun dijadikan Obyek Wisata menyelam dan memancing dan terdapat terumbu karang mutiara dan ikan kerapu yang cukup banyak.

Batu Termanu Sualai adalah batu rejeki bagi penduduk Rote Ndao. Batu Termanu Sualai merupakan tempat pemujaan orang Rote Tengah, di mana lokasi pemujaan terletak di puncak. Batu ini menurut cerita rakyat; dahulunya sering berpindah-pindah mengelilingi Pulau Rote dan ketika tiba di Rote Tengah, batu ini berhenti karena ritual/upacara adat untuk menyambut kedatangannya sangat disenangi oleh penunggu obyek wisata ini. Berjarak + 15 km dari kota Ba’a dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor + 15 menit.

Kedua batu ini satu jenis pria yang berada di pinggir pantai Lely dan satu jenis wanita terletak di sebelah kanan agak ke dalam laut. Mulanya Batu Termanu ini dari Vietnam pindah ke Maluku, suatu ketika pindah ke Rote Barat Laut (Oelaba) lalu berpindah lagi ke Termanu (Rote Tengah). Karena keadaan seperti itu maka orang Rote menganggap sebagai Batu Kramat dimana para tua-tua adat sering berdoa di kaki batu untuk memohon turunnya hujan.

Aktivitas: untuk menjelajah lokasi ini anda dapat menghubungi penjaga situs (jupel), Sdr. Noldy Fanggidae.

Akomodasi (penginapan di sekitar Obyek Wisata): Untuk penginapan anda dapat menginap di Hotel Tiberias yang jarak dengan situs ini + 300 m. Hotel ini adalah salah satu hotel terbaik dengan harga kamar berkisar antara Rp .250.000. s/d Rp.500.000/malam Anda dapat menghubungi pemilik atas nama Baba Tje Kuliner (tempat memperoleh makanan di sekitar Obyek Wisata): Tersedia jagung bakar, buah-buahan dipenggir jalan Negara jurusan Pantai Baru.

Transportasi: Untuk menjangkau lokasi dari kota Ba’a anda dapat menggunakan jasa Trevel atau angkutan kota atau sewa ojek dengan biaya sekitar Rp 25.000,-

[wisatantt]