Penandatanganan-Komitmen-Pncegahan-Stunting2

Bupati Mengajak Semua Sektor untuk Berkomitmen Menurunkan Stunting di Rote Ndao

Baa;- Bupati Rote Ndao, Paulina Haning-Bullu,SE saat memberikan sambutan dalam penandatanganan komitmen bersama penurunan Stunting di Kabupaten Rote Ndao yang bertempat di gedung GPdI Bethesda Baa, Kamis (16/5/2019) mengharapkan dukungan semua pihak untuk turut mendukung dan berkomitmen dalam mempercepat pencegahan stunting di Kabupaten Rote Ndao sesuai bidang tugasnya masing-masing.

“hari ini saya hadir di tempat ini merupakan bukti komitmen saya secara serius untuk tercapainya percepatan penurunan stunting di bumi Ita Esa ini” kata Bupati

Lanjut Bupati, kalau kita bicara stunting, tetapi apa itu stunting? stunting sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (hpk), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Stunting mempengaruhi perkembangan otak sehingga tingkat perkembangan anak tidak maksimal. Ini akan berdampak terhadap produktivitas pada saat dewasa serta terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah ini kelak. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit.

Riset kesehatan dasar  Kementerian Kesehatan pada 2018 menemukan 30,8% anak Indonesia mengalami stunting. Prevalensi ini turun dari angka 37,2% pada tahun 2013, tetapi angka stunting tetap tinggi dan masih terdapat 2 (dua) provinsi di Indonesia dengan prevalensi stunting di atas 40%, salah satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Data dari riset kesehatan dasar  tahun 2018 juga menunjukkan bahwa prevalensi anak stunting di Kabupaten Rote Ndao adalah 46,7% dengan total 2.690 balita stunting, ini adalah angka yang tergolong tinggi karena target nasionalnya adalah kita harus menurunkan prevalensi stunting hingga minimal 20%.

Lebih lanjut Bupati mengatakan bahwa untuk mencapai target nasional tersebut diperlukan suatu upaya percepatan untuk penurunan stunting. Ini bisa dicapai apabila semua pihak bersedia dan berkomitmen untuk saling bekerjasama dan berkoordinasi dalam berbagai program dan kegiatan secara kolaboratif dan terintegrasi sehingga dapat mengatasi berbagai faktor determinan yang mengakibatkan terjadinya stunting. Upaya ini dimulai melalui pertemuan penguatan komitmen dan pelaksanaan intervensi spesifik lintas program terkait penurunan stunting pada hari ini. Dengan adanya kegiatan pertemuan ini diharapkan semua pihak bisa saling berkoordinasi dengan baik demi terwujudnya penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Rote Ndao. Selain itu diharapkan hasil pertemuan ini dapat terbentuk SK Tim Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Rote Ndao.

Bupati juga mengingatkan bahwa agar penanganan stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan dan RSUD saja, tetapi urusan semua pihak yang hadir di sini termasuk seluruh komponen masyarakat yang peduli terhadap masalah stunting. Karena itu di sini sudah hadir peserta dari lintas sektor yang diharapkan bisa saling bekerja sama menangani masalah stunting di Kabupaten Rote Ndao, karena itu Dinas Kesehatan hanya mengurus 30% dari intervensi spesifik, sisanya diperlukan upaya lintas sektor sebanyak 70% untuk mengatasi stunting di Kabupaten Rote Ndao.

“sekali lagi, melalui kesempatan ini saya perlu kembali tekankan bahwa penurunan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan terintegrasi, ini bukan pekerjaan orang Dinas Kesehatan saja, tetapi juga tanggung jawab bersama lintas sektor dan masyarakat, artinya, keberhasilan kita dalam menurunkan prevalensi stunting di daerah ini merupakan keberhasilan semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini” ujar Bupati Paulina

Bupati Paulina menargetkan tahun ini prevalensi stunting di Rote Ndao menurun dari 46,7% menjadi 40% dan pada akhirnya tahun 2023 menjadi hanya 10% sesuai arahan Bapak Presiden Jokowi, karena itu dituntut koordinasi serta komitmen bersama dari lintas sektor serta berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Rote Ndao dalam mendukung upaya ini, sehingga pada akhirnya anak-anak kita kelak terhindar dari masalah stunting atau tumbuh kerdil ini.

“apa yang kita lakukan saat ini akan menyelamatkan satu generasi Rote Ndao ke depan, lakukanlah dengan hati seperti hati seorang ibu kepada anak-anaknya” ungkap Bupati perempuan pertama di NTT ini

Peserta yang hadir pada kegiatan ini berasal dari lintas sektor yaitu Bappeda, Bagian Hukum dan Perundangan, Camat, Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pemerintahan Masyarakat Desa, Dinas Pendidikan, Kepemudan dan Olahraga, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, Dinas Kominfo, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan KB, Dinas Sosial, dan RRI yang berjumlah 60 orang. (dinkes/diskominfo-rn)

potensi-perikanan-rote-1

PERIKANAN

Pembangunan perikanan diarahkan pada perikanan moderen yang beroreantasi pada agrobisnis, berbudaya industri, berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.  Penggelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan juga dilakukakan secara rasional, efesien, berhasil dalam mewujudkan, memberdayakan serta meningkatkan kesejahteraan petani nelayan yang profesional, maju dan mandiri melalui eksploitasi, eksplorasi dan konservasi kekayaan laut berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

Sumberdaya perikanan dan kelautan, baik perikanan tangkap maupun budidaya sangat potensial untuk dikembangkan guna mendorong pembangunan perikanan terutama di wilayah Kabupaten Rote Ndao.  Sumberdaya tersebut diantaranya jenis-jenis ikan pelagis dan demersalseperti ikan kembung (Rastrelling sp), ikan teri (Stelophorus sp), ikan tembang (Sardinella sp), kerapu (Epinephelus sp), ikan lencam (Lethrinus sp), ikan kakap (Lutjanus sp) dan sebagainya sedangkan jenis rumput laut seperti Euchemacottonii, hallymenia dan shakol serta pengolahan hasil perikanan seperti ikan asin, dodol rumput laut dan sebagainya. Sumberdaya diperkirakan memiliki potensi tangkap lestari ikan mencapai 17.875 ton/tahun.  Potensi yang baru dimanfaatkan rata-rata/tahun 30-40%.  Luas lahan untuk kegiatan budidaya cukup besar yaitu 32.675 Ha dengan pemanfaatan baru mencapai 10 Ha. Potensi  tersebut didukung oleh berbagai kehidupan komunitas perairan diantaranya ekosistem terumbu karang, lamun dan mangrove yang masih baik serta potensi budidaya budidaya rumput laut selain itu juga terdapat beberapa sungai/kali kecil yang merupakan daerah estuaria yang subur. Faktor lain yang turut  mendukung potensi perikanan di Kabupaten Rote Ndao adalah tingkat pencemaran industri dan rumah tangga masih rendah serta penggunaan alat tangkap masih bersifat sederhana/tradisional.

Peningkatan produksi perikanan terus dilakukan diantaranya melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perairan melalui kegiatan dan program, khususnya daerah pesisir yang diprioritaskan pada komoditi ekonomis penting. Untuk itu strategi pembangunan perikanan dititik beratkan pada alat tangkap, alat bantu penangkapan moderen maupun sarana dan prasrana budidaya rumput laut guna pemanfaatan sumberdaya perikanan yang belum tereksploitasi.

Salah satu cara yang ditempuh dalam upaya peningkatan hasil-hasil usaha perikanan adalah penggunaan metode dan alat tangkap yang sesuai dengan kondisi perairan tanpa merubah atau mengurangi keseimbangan lingkungan perairan tersebut, terutama  perairan pantai yang merupakan sumber perikanan tangkap.

Permasalahan didalam Gerak maju pembangunan Daerah dalam mengelola potensi sumberdaya perikanan masih  Kurangnya alat tangkap beserta perlengkapan baik secara kuantitas maupun kualitasnya sehingga mengakibatkan tingkat penangkapannya rendah, Struktur armada masih didominasi oleh armada tradisional, Kurangnya sarana  dan prasarana budidaya, Rendahnya pengetahuan teknis/teknologi (penangkapan, pembudidayaan dan pemasaran) pada tingkat nelayan dan petani, Organisasi nelayan dan pembudidayaan yang masih sangat lemah dalam struktur dan efektifitas manajemen rendah, Terbatasnya sumberdaya finansial untuk menunjang sektor kelautan dan perikanan, Kurangnya data pendukung yang lengkap dalam menunjang pengelolaan wilayah pesisir, Kurangnya aparat/tenaga teknis dalam memberikan pembinaan dan penyuluhan. Berbagai permasalahan diatas, diperlukan perubahan-perubahan dari sentuhan dan perlakuan dari berbagai pihak, baik itu berupa bantuan dana atau modal usaha, sarana dan prasarana maupun upaya peningkatan SDM, demi memberdayakan ekonomi masyarakat Kabupaten Rote Ndao.   Umumnya masyarakat pesisir dan secara khusus masyarakat nelayan penangkapan ikan, petani budidaya rumput laut dan pemasaran hasil perikanan.

A.  Potensi Perikanan :

  • Luas Perairan : 376 Km2                      
  • Panjang Garis Pantai :  330 Km
  • Lebar Garis Pantai :  7,2 Km
  • Perikanan Tangkap Lestari : 875 Ton/Tahun
  • Perikanan Tangkap yang Diperbolehkan : 300 Ton
  • Budidaya Laut : 675 Ha
  • Budidaya Perairan : 127 Ha
  • Budidaya Pantai : 12937 Ha
  • Budidaya Rumput Laut : 000 Ha
  • Budidaya Mutiara : 30 Ha
  • Tambak Garam : 206 Ha
  • Ekosistem Terumbu Karang : 714 Ha
  • Vegetasi Mangrove : 232 Ha
  • Balai Benih Ikan (BBI) : 3 Ha
  • Kawasan Minapolitan : 58 Buah
  • Sentral Kawasan Minapolitan : 3 Buah

B.  Pemanfaatan Potensi Sumber Daya

  • Perikanan Tangkap (Catch) : 310 Ton/Tahun
  • Lahan BudidayaMutiara : 5 Ha
  • Lahan Budidaya Rumput Laut :  214 Ha
  • Lahan Budidaya Payau                                             : 5 Ha
  • Lahan Budidaya Perikanan Darat (Air Tawar) : 5 Ha
  • Lahan Tambak Garam : 5 Ha

C.  Produksi Perikanan Tangkap Budidaya dan Pengolahan Hasil Perikanan, terdiri dari :

  • Ikan Demersal (Kerapu, Beronang, Kakap, dan lain-lain) =  368 Ton/Tahun
  • Ikan Pelagis (Tongkol, Cakalang, Kembung, Tembang dan lain-lain) =  942 Ton/Tahun
  • Pengolahan Hasil Perikanan =  92 ton/Tahun
  • Pengumpul/Pedagang/Pengecer =  249 orang
  • Perikanan Darat (Nila, Karper, Mujair, Lele, Bawal dan lain-lain) =  4 Ton/Tahun

D.  Armada

  • Jukung : 1.555 Unit
  • Perahu Tanpa Motor : 122 Unit
  • Kapal Motor : 246 Unit
  • Ketinting : 383 Unit
  • Perahu Layar : 59 Unit

E.  Alat Tangkap

  • Bagan Apung : 12 Unit
  • Bagan Tancap : 4 Unit
  • Pancing Tangan : 407 Unit
  • Rawai Dasar        : 77 Unit
  • Gill Net : 1.799 Piece
  • Jala Tebar : 87 Unit
  • Purse Seine : 49 Unit
  • Pancing Tonda : 203 Unit

F.  Pelabuhan Perikanan Rakyat : 24 buah (Papela, Mukekuku, Maioe, Korlok, Oeledo, Tesabela, Sonimanu,

Oenggae, Hala, Tulandale,  Namodale,Baadale, Daudolu, Mbueain, Oebou, Hundihuk, Oelaba, Tolama, Tasilo,

Say, Ndao, Nuse, Oeseli dan Batutua).

G.  Infrastruktur Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) : Break Water, Tambatan Perahu (jeti), Pelataran, Pasar Ikan,

Pabrik Es Kapasitas produksi 10 Ton dan Cool Storage Kapasitas 30 Ton.

DATA PRODUKSI  IKAN DAN NON IKAN KOMULATIF TAHUN 2006 – 2016

         No       Jenis      Komoditi Produksi  (Ton)        Ket.
       2006       2007        2008      2009       2010201120122013201420152016
I.Ikan :       
1 Ikan Pelagis1.6471.9022.1001.800      594         8117471.4301.5211.7891.942Basah
2Ikan Demersal     1.138     1.268     1.400        571      396        7068141.2251.2251.4701.368Basah
Jumlah2.7853.1703.5002.3719901.5171.5592.6322.7463.2593.310          Basah
II.Non Ikan :         
1Rumput Laut5.0866.5056.1277.3341.512,509469032.1792.17918.23016.074Kering
2Mutiara (gram)            –           –             –     5.122 4.777,90           ––––––Gram
3 Cumi-Cumi       3,12     19,98     35,71     52,17       8,96           –20,4849.13–109112Kering
4Teripang–7092323277663453539

 

sasando

Alat Musik Sasando

Sasando adalah salah satu alat musik tradisional dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando ini merupakan alat musik berdawai tanpa mempunyai cord dan dimainkan dengan cara dipetik dengan menggunakan jari. Alat musik satu ini hampir sama dengan alat musik tradisional seperti Kecapi atau Harpa, namun memiliki bentuk dan suara yang sangat khas. Sasando merupakan salah satu alat musik yang sangat terkenal, tidak hanya di Indonesia saja, namun juga sampai luar negeri.

Sejarah Sasando

Sasando merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). ada beberapa versi cerita yang mengisahkan tentang awal mula Sasando ini. Salah satu cerita yang banyak berkembang di masyarakat adalah kisah Sangguana yang terdampar di Pulau Ndana dan jatuh cinta dengan putri Raja. Mengetahui Sangguana jatuh cinta kepada putrinya, sang Raja pun memberikan syarat untuk menerima Sangguana. Sangguana diminta untuk membuat alat musik yang berbeda dengan alat musik lainnya.

Pada suatu ketika, Sangguana pun bermimpi. Dalam mimpi tersebut dia memainkan alat musik yang berbentuk indah dan memiliki suara yang merdu. Dari situlah Sangguana membuat alat musik yang disebut dengan Sasando dan diberikan kepada sang Raja. Raja pun kagum dengan alat musik yang dibuat oleh Sangguana, dan kemudian Raja menikahkan putrinya dengan Sangguana.

Secara harfiah nama Sasando berasal dari bahasa Rote, yaitu “Sasandu” yang berarti “bergetar atau berbunyi”. Sasando ini sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian, syair,tarian tradisional dan menghibur keluarga yang berduka. Pada saat ini, Sasando tidak hanya terkenal dan terdapat di daerah Pulau Rote saja, namun juga terdapat di daerah lain di Nusa Tenggara Timur seperti Kupang dan daerah lainnya.

Fungsi Dan Makna Sasando

Sasando ini merupakan salah satu alat musik yang memiliki suara bervariasi, sehingga dapat dimainkan dalam genre yang bervariasi seperti musik tradisional, pop, dan genre musik lainnya yang bukan musik elektrik. Dalam masyarakat Rote sendiri, Sasando sering dimainkan untuk mengiringi tarian, lagu, syair dan acara hiburan lainnya.

Bentuk Sasando

Sasando ini memiliki bentuk yang sangat unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya. Pada bagian utama Sasando ini berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus. Bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai. Pada bagian tengah  bambu biasanya diberi senda (penyangga) dimana dawai direntangkan. Senda ini digunakan untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda di setiap petikan dawai. Sedangkan wadah untuk resonansi berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.

Cara Memainkan Sasando

Walaupun merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik, namun sasandu memiliki cara yang berbeda dengan alat musik petikan lainnya. Sasando biasanya dimainkan menggunakan kedua tangan dengan arah yang berlawanan. Tangan kanan berperan untuk memainkan accord, sedangkan tangan kiri sebagai melodi atau bass.

Untuk memainkan Sasando ini tentu tidak mudah, karena di butuhkan harmonisasi perasaan dan teknik, sehingga menghasilkan nada yang pas dan merdu. Selain itu keterampilan jari dalam memetik sangat diperlukan. Hampir sama dengan alat musik Harpa keterampilan dalam memetik dawai sangat mempengaruhi suara apalagi bila memainkan nada tempo cepat maka  keterampilan tangan sangat diperlukan.

Jenis Sasando

Sasando ini memiliki jenis yang berbeda-beda. Menurut perkembangannya, Sasando dibagi menjadi dua tipe yaitu tradisional dan elektrik. Sasando tradisional merupakan bentuk Sasando aslinya dan dimainkan tanpa alat elektronik seperti amplifier atau akustik. Sedangkan Sasando elektrik merupakan jenis Sasando yang bisa dimainkan dengan alat elektronik. Biasanya Sasando elektrik dimainkan dalam panggung besar atau pertunjukan modern.

Berdasarkan suaranya, Sasando juga dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya seperti Sasando engkel, Sasando dobel, Sasando gong dan Sasando biola. Sasando engkel merupakan jenis Sasando yang memiliki 28 dawai. Untuk Sasando dobel biasanya memiliki 56 atau 84 dawai, sehingga memiliki lebih banyak jenis suara. Untuk Sasando gong, merupakan jenis Sasando yang memiliki suara hampir menyerupai suara gong. Sedangkan Sasando biola merupakan Sasando yang memiliki suara hampir sama dengan suara biola. Tentunya penggunaan setiap jenis Sasando disesuaikan dengan keahlian setiap pemain dan kebutuhan pertunjukan.

Perkembangan Sasando

Alat musik Sasando masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Seperti yang dikatakan sebelumnya, saat ini Sasando telah dikembangkan menjadi beberapa jenis, baik dalam segi suara bahkan juga dibuat musik elektrik. Saat ini Sasando juga masih sering dimainkan untuk mengiringi lagu, syair, dan tarian tradisional. Selain itu Sasando juga sering ditampilkan dalam bentuk orkestra maupun pertunjukan solo. Suaranya yang merdu dan indah membuat banyak orang tertarik akan musik tradisional satu ini. Bahkan pesona suara musik Sasando tidak hanya dikenal di masyarakat lokal saja, namun juga dikenal baik dalam negeri maupun manca negara.

rumah-adat-rote

Rumah Tradisional Pulau Rote

Rumah unik dari pulau lontar atau Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu pulau yang daratannya di hiasi Pohon Lontar, masyarakat sekitar biasa menyebutnya Pohon Tuak, dan juga di kelilingi oleh lautan luas yang indah dan beragam, bahkan ada salah satu pantai yang terkenal dengan keindahan laut dan ombaknya bahkan terkenal sampai ke manca negara dan di jadikan Tournament Surfing International pada bulan September-Oktober setiap tahunnya di pantai Nemberala atau pantai Bo’a

Namun kali ini tidak akan dibahas tentang keindahan laut tapi keunikan Rumah Tradisonal yang terletak dekat laut. Rumah tradisional Rote memilki bentuk, struktur, konstruksi, dan material yang unik yang di sesuaikan dengan kondisi lingkungan pulau Rote. Pada atap memiliki kemiringan yang curam menggunakan penutup daun alang-alang atau daun kelapa ataupun daun pohon lontar. Pondasi rumah menggunakan konstruksi tiang kayu yang ditanam dalam tanah. Dinding rumah tradisional dari batang daun pohon kelapa (pelepah) masyarakat sekitar menyebutnya kayu bebak, papan kayu, papan batang kelapa atau papan batang pohon lontar, tapi pada umumnya menggunakan masyarakat sekitar pelepah sedangkan lantai rumah masih tanah alami tanpa di lapisi apapun.

pantai-tolanamon

Pantai Tolanamon

Keindahan Pantai Tolanamon di Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum banyak dikenali wisatawan lokal apalagi wisatawan asing.

Pantai ini baru dikenal warga NTT beberapa bulan lalu setelah seorang warga Desa Inaoe mengunggah ke media sosial. Langsung saja, setiap hari ribuan wisatawan lokal berkunjung ke tempat ini.

Pesona pantai Tolanamon seakan menyimpan selaksa magnet yang mampu menyedot perhatian dan mengobrak abrik dinding rasa para pemuja keindahan untuk segera berkunjung dan menikmati “keperawanan” pantai di tepian Samudera Indonesia itu.

Pantai ini berupa teluk menghadap ke arah Samudera Indonesia yang cukup ganas. Namun, pengunjung tidak perlu khawatir karena posisi teluk menjorok jauh ke daratan dan diapit tebing-tebing karang kokoh di kedua sisinya. Pantai itu pun teduh seperti kolam renang yang tenang dan bersih, aman untuk mandi dan berenang.

Sepanjang bibir pantai terdapat hamparan pasir putih yang bersih dihiasi pepohonan yang rindang dan menghijau, sesekali melintas camar laut sekadar ikut memberi warna di pantai Tolanamon.

Untuk mencapai pantai tersebut pengunjung dapat menggunakan mobil atau sepeda motor, dengan jarak tempuh dari ibu kota kabupaten Rote Ndao yakni Ba’a menuju Desa Inaoe sejauh 24 km.

Setelah tiba di Desa Inaoe  perjalanan menuju pantai ke arah timur sekitar 4 km, dengan kondisi jalan yang belum diaspal. Tapi, perjuangan akan terbayar begitu tampak tebing karang seakan tersenyum sembari menyapa selamat datang di Pantai Tolanamo.

pantai-oesosole

Pantai Oesosole

Pantai berpasir putih dan memiliki batu karang berbentuk hati ini terletak di Desa Faifua – Kecamatan Rote Timur – Kabupaten Rote Ndao. Berjarak 55 km dari kota Ba’a, bisa ditempuh kurang lebih 1 jam 30 menit. Pantai ini belum terlalu dikunjungi sehingga kita seperti berada di pantai pribadi.

Pantai dengan pasir putih dan lembut serta air lautnya yang biru dan jernih menjadi daya tarik bagi para pengunjung untuk mandi dan berjemuran di tempat ini. Ada pula sebuah batu karang berbentuk hati yang menjadi ikon dari tempat ini dan juga beberapa batu karang lain yang jika air surut kita bisa bermain ke karang-karang tersebut dan melihat banyak ikan-ikan kecil dan binatang lainnya disekitar karang tersebut. Pantai ini juga dikelilingi pohon pinus yang cantik. Belum ada masyarakat sekitar yang berjualan ditempat ini sehingga disarankan untuk membawa bekal sendiri.

mulut seribu - landuleko4

Labirin Pantai Mulut Seribu

Menikmati liburan saat di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas.

Salah satu yang patut dicoba ialah menjelajahi kawasan Mulut Seribu. Gugusan pulau di Kecamatan Landu Leko ini mulai berkembang menjadi tujuan wisata favorit.

Traveler akan menikmati penorama pulau-pulau kecil dikelilingi pasir putih, serta berjumpa warga yang mengangkut hasil panen rumput laut menggunakan perahu motor.

Berwisata di Mulut Seribu disarankan dengan rombongan sehingga bisa patungan membayar sewa perahu, dan mobil. Satu perahu berkapasitas antara 5-6 orang termasuk nakhoda.

Jangan lupa membawa topi untuk melindungi kepala dari sengatan matahari serta peralatan untuk melindungi kamera dari kerusakan karena percikan air laut. Hal yang tidak boleh dilupakan ialah tidak berwisata di musim barat mengingat perairan di sana terhubung ke Laut Timor sehingga bergelombang tinggi.

Untuk pengunjung yang baru pertama kali datang ke Mulut Seribu perlu ditemani pemandu yang berasal dari nelayan setempat dikarenakan jalur masuk maupun jalur keluar menuju lokasi wisata ini hampir seragam sehingga tanpa pemandu, traveler akan kewalahan menemukan jalan keluar.

Hanya ada dua pintu masuk ke kawasan ini. Sebelum tiba di tengah, perahu masih melewati satu pintu lagi, Pintu-pintu berukuran sempit, dan terletak di antara tebing karang.  Namun, Anda akan takjub menyusuri selat antara pulau-pulau kecil ini. Perjalanan wisata Anda berkesan dan akan selalu dikenang.

telaga-nirwana

TELAGA NIRWANA

Pemandangan asri nan menyejukan hati pengunjung dikala tiba di pantai indah dengan telaganya yang begitu mempesona dan memukau bagaikan si gadis cantik yang belum mengenal dunia luar, itulah Telaga Nirwana, demikian sebutan penduduk desa setempat. Telaga Nirwana yang berada kurang lebih 200 meter dari bibir pantai Buadale tepatnya di Dusun Kotalai Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Seakan menjanjikan kenangan terindah bagi setiap pengunjung yang datang ke Telaga Nirwana, karena pemandangannya yang sangat mempesona dengan teluk sepanjang kurang lebih 700 meter dan bermuara pada sebuah telaga yang menjolor tepat ke dalam sebuah gua yang sangat indah. Suguhan makin indah, di tengah telaga tersebut ada sebuah lempengan batu besar berbentuk hati yang dikelilingi bentangan pasir putih di dasar air yang tembus pandang, dengan kedalaman air setinggi pinggang orang dewasa.

Jika hendak ke Telaga Nirwana, pengunjung bisa menyewa sampan milik nelayan di bibir pantai Buedale dan bertolak dengan mendayung sampan tersebut sekitar 200 meter, hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit sudah sampai di tempat. Jarak tempuh dari Kota Baa ke Desa Oeseli kurang lebih 35 kilo meter, bisa menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat

lanal-pulau-rote-wawasan-kebangsaan

Lanal Pulau Rote Gelar Pemantapan Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air

Kegiatan pemantapan Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air bertujuan untuk memantapkan cara pandang dan pemahaman kebangsaan bagi generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara dalam rangka meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa sehingga akan dapat mengurangi potensi konflik dan berkembangnya paham paham negatif pada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Letkol Laut (P) Akhmad Alif .S.Z, M.Tr.Hanla sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) dihadapan pelajar dan para tamu undangan pada kegiatan “ Pemantapan Wawasan Kebangsaan Dan Rasa Cinta Tanah Air Masyarakat Pulau Rote Tahun 2019 “ yang dilaksanakan di Mako Lanal Pulau Rote, Sabtu (04/05/2019).

“seseorang yang memiliki pemahaman wawasan kebangsaan yang kuat akan mempunyai semangat cinta tanah air,” Tegas Akhmad.

Adapun rangkaian kegiatan tersebut diantaranya yakni lomba cerdas cermat tingkat SMP se wilayah Kabupaten Rote Ndao, Penyuluhan serta sosialisasi Bahaya Narkotika oleh Tim dari BNN Kab. Rote kepada para pelajar SMP, Penyerahan Sembako kepada Masyarakat yang tidak mampu sebanyak 200 Paket, serta pembagian bingkisan berupa buku tulis dan Pin bendera Merah Putih kepada para pelajar sebanyak 2000 Buah.

Sementara itu pemenang Lomba cerdas cermat diantaranya, Juara I diraih SMPN 3 Oelasin, Juara II di raih SMPN 4 Lindamanu, Juara III diraih SMPN 1 Batutua dan Juara IV diraih SMP Satap Deranitan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Tim Spotmar Mabesal Kolonel Laut ( E ) Halili, S.H dan Letkol Laut ( P ) Hari Budiman, M.Tr.Hanla, Kadispotmar Lantamal VII Letkol laut ( P ) Dovian, Dandim 1627/Rote Ndao, Camat Rote Barat Daya, Kapolsek Batutua, Kepala Sekolah SMP di wilayah Rote Barat Daya, Pengurus Jalasenastri Cab. 4 Korcab VII , Pengurus Persit Candra Kirana 1627/Rote Ndao, tokoh masyarakat setempat serta para pelajar SMP se Rote Barat Daya. (*/r01/rotv/ktmi)