150918_warga-meksiko-bertelepon-usai-diguncang-gempa-bumi_663_382

Meksiko Kembali Diguncang Gempa 6 Skala Richter


KABUL,TIMEX-Ledakan bom menghantam sebuah truk yang membawa pasukan tentara Pakistan di perbatasan Afghanistan pada hari Kamis (8/5). Akibatnya, sembilan orang tentara tewas dan sedikitnya 12 lainnya terluka.

Pejabat senior militer yang berbasis di Miranshah menyampaikan bahwa bom itu ditanam di sebuah truk yang membawa tentara paramiliter Korps Perbatasan. Bom meledak saat truk bergerak di sepanjang perbatasan Afghanistan di mana banyak kelompok militan Al Qaeda yang bersembunyi.

“Pasukan paramiliter melakukan beberapa gerakan intern sepanjang perbatasan Afghanistan ketika truk pick up mereka diledakkan, ” katanya seperti dilansir Reuters, Kamis (8/5).

Pejabat militer lainnya mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa di antara mereka yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Serangan bom ini dianggap yang terbesar terhadap pasukan keamanan Pakistan dalam beberapa bulan terakhir. Ini menjadi pukulan besar bagi tentara saat Pakistan sudah di bawah tekanan kuat AS untuk berbuat lebih banyak mengatasi pemberontakan di perbatasan wilayah barat.

Hingga kini Belum ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, para pejabat setempat menuding Taliban Pakistan.

Taliban sebelumnya bersumpah untuk meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan dan pemerintah setelah pemilihan pemimpin garis keras baru, Mullah Fazlullah, pada akhir tahun lalu. (jpnn/onq)

224038_620

Bom Meledak di Perbatasan, 9 Tentara Pakistan Tewas

KABUL,TIMEX-Ledakan bom menghantam sebuah truk yang membawa pasukan tentara Pakistan di perbatasan Afghanistan pada hari Kamis (8/5).

Akibatnya, sembilan orang tentara tewas dan sedikitnya 12 lainnya terluka. Pejabat senior militer yang berbasis di Miranshah menyampaikan bahwa bom itu ditanam di sebuah truk yang membawa tentara paramiliter Korps Perbatasan. Bom meledak saat truk bergerak di sepanjang perbatasan Afghanistan di mana banyak kelompok militan Al Qaeda yang bersembunyi.

“Pasukan paramiliter melakukan beberapa gerakan intern sepanjang perbatasan Afghanistan ketika truk pick up mereka diledakkan, ” katanya seperti dilansir Reuters, Kamis (8/5). Pejabat militer lainnya mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa di antara mereka yang terluka berada dalam kondisi kritis. Serangan bom ini dianggap yang terbesar terhadap pasukan keamanan Pakistan dalam beberapa bulan terakhir.

Ini menjadi pukulan besar bagi tentara saat Pakistan sudah di bawah tekanan kuat AS untuk berbuat lebih banyak mengatasi pemberontakan di perbatasan wilayah barat. Hingga kini Belum ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Namun, para pejabat setempat menuding Taliban Pakistan. Taliban sebelumnya bersumpah untuk meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan dan pemerintah setelah pemilihan pemimpin garis keras baru, Mullah Fazlullah, pada akhir tahun lalu. (jpnn/onq)

robot

PBB Bahas Robot Pembunuh dalam Perang

JENEWA,TIMEX-Konvensi PBB tentang Senjata Konvensional Khusus (CCW), akan membahas tentang konsep robot pembunuh sebagai senjata otomatis yang bisa memilih dan mengunci sasaran tanpa memerlukan intervensi manusia.

Dalam pertemuan para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, dua ahli robot yaitu Prof Ronald Arkin dan Prof Noel Sharkey, akan mendebat soal keberhasilan serta kebutuhan robot pembunuh ini.

“Sistim senjata otomatis tidak bisa dijamin untuk memenuhi hukum internasional,” kata Prof Sharkey. Laman BBC menyebutkan, sejumlah orang yang mendukung diciptakannya robot pembunuh percaya bahwa hukum perang saat ini sudah cukup mengatasi risiko yang mungkin muncul jika robot ini betul-betul dimanfaatkan. Namun, pihak yang menentang, percaya bahwa robot pembunuh adalah ancaman bagi kemanusiaan dan fungsi “membunuh otomatis” harus dilarang.

“Negara-negara selama ini tidak pernah membicarakan keberadaan robot ini, sehingga memiliki ancaman besar bagi kemanusiaan,” lanjutnya. Saat ini, robot itu belum diciptakan tetapi kecanggihan teknologi mampu membuatnya lebih dekat dengan kenyataan.

Prof Sharkey adalah anggota dan salah satu penentang keberadaan robot pembunuh. Dia juga ketua dari Komite Internasional untuk Kontrol Senjata Robot. Dia giat berkampanye menentang pembuatan robot ini dalam perang. Sementara Prof Arkin dari Georgia Institute of Technology mendukung keberadaan robot pembunuh dengan alasan dapat mengurangi korban. “Saya mendukung moratorium sampai kesepakatan akhir yang dicapai, tapi saya tidak menyetujui larangan pada saat ini,” kata Prof Arkin. (jpnn/onq)