pelatihan-aplikasi22

Pengembangan Aplikasi Tanpa Coding Tunjang Produktivitas OPD

Pemkab Rote Ndao memberikan ruang kreativitas dan inovasi bagi semua organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menciptakan alat bantu kerja berbasis aplikasi guna mendukung efektifitas, efisiensi dan produktivitas kerja organisasi. Strategi ini dinilai tepat dalam semangat memberikan pelayanan publik yang terbaik bagi masyarakat, cepat, tepat dan mudah diakses dalam Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Dimulai dengan Pelatihan Pengembangan Aplikasi Tanpa Coding oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Rote Ndao yang mengikutsertakan perwakilan OPD lingkup Pemkab Rote Ndao, kamis (24/11/22) di Penginapan Gege House. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dan diharapkan perangkat daerah akan mampu menciptakan aplikasi sederhana guna membantu pelaksanaan tugas dan meningkatkan produktivitas kerja. Pada puncak kegiatan akan dilakukan launching aplikasi SIM Obat RSUD Ba’a.

Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Rote Ndao Jermi Haning, Ph.D ketika menjadi narasumber mengatakan, pentingnya penerapan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi saat ini agar pelaksanaan tugas lebih efektif, efisien dan meningkat produktivitasnya. Ia berharap ASN lingkup Pemkab Rote Ndao mesti berpikir dan menghasilkan inovasi yang berkaitan dengan bidang tugasnya. Inovasi yang dibuat harus bermanfaat secara input, output dan incomenya bagi masyarakat dan daerah ini.

Ia mencontohkan disuatu wilayah yang memiliki sebuah aplikasi e-commerce maka penggunaannya bermanfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat karena membantu masyarakat dalam jual beli hasil produksinya.

” Buatlah inovasi yang tidak biasa. Inputnya bagus, outputnya bagus tapi incomenya juga harus bagus. Misalnya di suatu wilayah bisa buat sebuah aplikasi e-commerce untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena mempermudah dalam proses jual beli komoditas milik masyarakat,” ungkapnya memberi motivasi.

Lanjut Jermi, perlu juga mengubah kebiasaan lama jika itu untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Termasuk tata cara mentransfer pengetahuan sehingga setiap orang punya kemampuan dan skill yang berbeda namun berkontribusi terhadap penyelesaian suatu masalah.

“Rubah kebiasaan lama kita, menemukan masalahnya. Rubah juga cara kita mentransfer pengetahuan. Agar setiap tahun kita punya satu skill. Orang yang dilatih harus bisa menjadi pelatih. Itu tanda sebuah program pelatihan dikatakan berhasil,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Komunikasi, Informatika , Statistik dan Persandian Kabupaten Rote Ndao Drs. Welhelmus Mooy, M.Si menambahkan Indeks SPBE Kabupaten Rote Ndao mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan sejauh ini sudah ada aplikasi yang diterapkan tapi masih berdiri sendiri di beberapa OPD. Sehingga perlu ada pemusatan pada satu wadah agar lebih tertata dan mudah untuk diakses.

” Pelatihan ini pasti akan menghasilkan aplikasi dari OPD masing-masing. Indeks SPBE kita terus meningkat. Sudah ada aplikasi di beberapa OPD tapi Masi berdiri sendiri. Semuanya harus terpusat. Jadi bicara tentang SPBE kita berharap setiap kita punya kreasi dan inovasi setelah kegiatan ini,” harapnya.(Bidkom-DKISP)

WhatsApp Image 2022-11-25 at 22.00.18

PGRI Rote Ndao Bedah Perlindungan Profesi Guru dan Dosen

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Rote Ndao melihat perlindungan hukum terhadap profesi guru dan dosen sebagai hal yang penting. Untuk hal ini, PGRI Rote Ndao menggelar seminar publik bertajuk ” Perlindungan Hukum terhadap Profesi Guru dan Dosen ” di auditorium Ti’i Langga, rabu (23/11/22). Menghadirkan pembicara yang berlatarbelakang praktisi hukum dan pendidikan.

Kapolres Rote Ndao AKBP I Nyoman Sandita,SH,S.IK,MH yang hadir sebagai narasumber mengatakan profesi guru sebagai pilar utama yang melahirkan sumber daya manusia generasi bangsa maka patutlah guru disebut sebagai sebuah profesi yang mulia.

“Profesi guru adalah profesi yang mulia dan merupakan pilar utama penentu yang melahirkan sumber daya manusia generasi bangsa ini,” jelas Nyoman.

Karena itu, lanjut Sandita, adanya restoratif justice sebagai upaya memberikan ruang perlindungan bagi profesi guru itu sendiri. Dimana telah ada MoU antara Polri dengan PGRI sebagai wujud perlindungan terhadap profesi guru. Maksud dari MoU tersebut adalah memberikan ruang kepada para guru yang dalam melaksanakan tugasnya ternyata harus berhadapan dengan masalah hukum untuk adanya restoratif justice.

” MoU antara Polri dan PGRi sebagai wujud perlindungan hukum terhadap profesi guru yang mana isi dari MoU tersebut sejalan dengan program Polri saat ini yakni restoratif justice. Dan Polres Rote Ndao memberikan ruang kepada Bapak/Ibu guru sekalian yang berhadapan dengan hukum karena permasalahan dengan peserta didik untuk adanya restoratif justice,” jelas Sandita.

Meski demikian, Sandita menghimbau agar para guru dan tenaga pendidik selalu menghindari kekerasan fisik maupun verbal terhadap peserta didik. Melainkan selalu mengedepankan pendekatan emosional dan kultur serta penerapan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.

“Perlindungan hukum terhadap profesi guru ada tahapan dan SOPnya. Dikomunikasikan dengan orang tua. Dan bila sudah tidak dapat dibina maka dikomunikasikan dengan pihak Kepolisian,” ungkap Sandita.

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menggunakan forum tanya jawab dengan coba menggali informasi terkait program polisi masuk sekolah. Kornelis Tala, pengurus Cabang PGRI Kecamatan Rote Tengah misalnya, bertanya terkait kegiatan kunjungan polisi ke sekolah yang diharapkannya dapat menjangkau semua sekolah.

Terkait ini Sandita menjelaskan, Polri sesungguhnya punya program Polisi Goes to School. Program ini sejatinya dilakukan untuk memberikan motivasi kepada para siswa untuk memiliki semangat yang tinggi dalam menempuh pendidikan dan meraih cita-cita. Program ini sempat terkendala karena faktor Covid 19 sehingga direncanakan tahun 2023 akan kembali berjalan maksimal.

” Program Polisi masuk sekolah merupakan program dalam rangka memberikan support kepada murid-murid. Tapi saat ini terhambat karena situasi Covid 19 sehingga fokus Polri adalah membantu pemerintah dalam upaya penanganannya. Tahun 2023 akan dimaksimalkan lagi program Polisi Goes to School,” ungkap Sandita.(Bidkom-DKISP)

WhatsApp Image 2022-11-21 at 21.01.59

Revitalisasi Bahasa Rote di Festival Tunas Bahasa Ibu Kemdikbud, Riset dan Teknologi

Pemda Rote Ndao menempatkan pengembangan sumber daya manusia yang berdaya saing sebagai salah satu program prioritas. Hal ini bertalian dengan penerapan penggunaan bahasa daerah Rote Ndao sebagai bahasa ibu pada semua generasi.

Dimulai dari anak usia sekolah, pola pendidikan berbahasa sudah mesti diterapkan. Apalagi tahun ini bahasa Rote Ndao menjadi 1 dari 5 bahasa di NTT masuk dalam program Revitalisasi Bahasa Daerah oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Kantor Bahasa NTT menyampaikan 5 bahasa daerah yang direvitalisasi oleh Kemendikbud, Riset dan Teknologi RI tersebut adalah bahasa Rote, Dawan, Abui, Kameran dan bahasa Manggarai.

Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus M. Saek,SE,M.Si menjelaskan sinergitas Pemda Rote Ndao dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI dalam revitalisasi bahasa daerah saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Kabupaten Rote Ndao, selasa (22/11/22) di auditorium Ti’i Langga.

Kegiatan yang diselenggarakan bersama Pemda Rote Ndao dan Kantor Bahasa NTT Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Riset dan Teknologi RI ini bertemakan “Revitalisasi Bahasa Rote sebagai bahasa ibu”. Revitalisasi Bahasa ini menyasar generasi muda Rote Ndao sejak berada dibangku SD dan SMP.

” Kita ketahui bersama bahwa salah satu program strategis Pemda Rote Ndao adalah meningkatkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing. Diantaranya adalah pendidikan yang tidak hanya pendidikan formal tapi juga pendidikan non formal dan informal. Dan kegiatan ini adalah untuk merevitalisasi bahasa ibu. Kami apresiasi semua program dan kegiatan yang dibuat untuk revitalisasi bahasa ibu ini,” ungkap Wabup Stef.

Menurut Wabup Stef, bahasa daerah sebagai jati diri masyarakat dan daerah ini sehingga wajib dipertahankan. Ini warisan leluhur ketika hidup berkelompok dan menciptakan satu bahasa yang dipakai bersama kemudian disebut sebagai bahasa ibu. Karena itu ia mengajak semua pihak untuk bersama menjaga dan melestarikan bahasa daerah dan wajib meneruskannya kepada generasi.

Kegiatan bertajuk Revitalisasi Bahasa Rote ini menurut Wabup Stef mengindikasikan mulai terjadi kemunduran bahasa yang disebabkan oleh banyak faktor. Sehingga kegiatan ini dinilai tepat untuk terus mempertahankan eksistensi bahasa daerah sebagai jati diri masyaarakat dan daerah ini.

” Menunjukkan jati diri dari daerah ini. Mari kita sama-sama menjaga dan melestarikannya. Kalau disebut revitalisasi berarti bahwa ada mulai terjadi kemunduran bahasa. Artinya mulai bergeser karena perubahan jaman,” jelas Wabup Stef.

Dan dalam semangat revitalisasi bahasa di kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu yang difokuskan pada siswa SD dan SMP di Kabupaten Rote Ndao ini, lanjut Wabup Stef, penerapannya menjadi tanggung jawab besar pemerintah, orang tua dan guru. Sebab anak-anak ini kedepan akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan yang salah satunya terkait bahasa.

” Karena itu kami berharap para guru di sekolah, salah satu muatan mata pelajarannya adalah bahasa daerah lebih khusus bahasa ibu tolong dilatih, diajarkan dan dibiasakan kepada anak-anak kita supaya mereka tetap bisa berbahasa Rote. Berada dimana pun mereka bisa menggunakan bahasa Rote. Juga orang tua agar kita ajarkan bahasa daerah kepada anak-anak kita. Kalau di rumah saya dan istri biasa bicara menggunakan bahasa Rote supaya anak-anak bisa mengerti,” ungkap Wabup Stef memotivasi.

Point dari revitalisasi bahasa ini, tegas Wabup Stef, agar anak-anak bisa berbahasa daerah dengan baik. Anak-anak harus dilatih untuk bisa menggunakan bahasa daerah. ” Kami orang tua punya tanggung jawab untuk meneruskan apa yang menjadi warisan leluhur kita. Kami atas nama pemerintah menyampaikan salam hormat kepada pimpinan Kantor Bahasa NTT. Kami berterima kasih dan berharap kegiatan seperti ini terus kita selenggarakan,” harap Wabup Stef.(Bidkom-DKISP)

WhatsApp Image 2022-11-18 at 20.52.15

PMT Snack Bergizi, Kebijakan dan Inovasi Baru Pemkab Rote Ndao Turunkan Stunting

Pemkab Rote Ndao terus gencar melakukan upaya-upaya mengeliminir kasus stunting di daerah ini. Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS ) Kabupaten Rote Ndao dibawah pimpinan Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus M. Saek, SE ,M.Si menyatakan penanganan stunting sebagai upaya kemanusiaan sehingga pelaksanaannya pun mesti dengan keikhlasan, kerjasama lintas sektor dalam satu semangat menghadirkan generasi emas Rote Ndao dimasa mendatang.

Upaya demi upaya dilakukan, strategi kebijakan dan inovasi juga tak hentinya digulirkan untuk memastikan percepatan penurunan stunting memberikan hasil yang terbaik. Tercatat ada 6 inovasi yang telah dihadirkan Pemkab Rote Ndao untuk mengeliminir terjadinya kasus Balita stunting di Kabupaten Rote Ndao. Wabup Stef mengatakan pelaksanaan percepatan penurunan stunting agar selalu berpedoman pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN-PASTI) sebagai jabaran operasional dilapangan dengan memperkuat konvergensi program dan kegiatan.

Dalam kegiatan Rekonsiliasi Stunting tingkat Provinsi NTT di Kupang pada 4 Agustus 2022 silam, yang dihadiri pimpinan daerah se-NTT bersama TPPS Kabupate/Kota antara lain menghasilkan Kesepakatan antara TPPS Kabupaten/Kota dengan TPPS Provinsi NTTyang dipimpin Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi terkait Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada Balita Stunting.

Pemkab Rote Ndao kemudian mengulirkan kebijakan baru penanganan stunting yakni Pemberian PMT Snack Bergizi dengan format baru. Menurut Wabup Stef, PMT yang akan diberikan kepada anak yang terkonfirmasi stunting tersebut dikemas dalam bentuk biskuit yang terbuat dari campuran daging, telur, ikan dan sayuran serta bahan lainnya sesuai dengan kaidah kesehatan. Biskuit diberikan sebanyak 3 keping setiap hari selama 6 bulan, dihantar langsung oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan pelaksanaannya akan terus dipantau oleh TPPS Kabupaten, Kecamatan, Desa dan Kelurahan.

Sebagai tindak lanjut kesepakatan dalam kegiatan Rekonsiliasi Stunting tingkat Provinsi NTT dan penerapan kebijakan baru Pemkab Rote Ndao tersebut, lewat alokasi DAU di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Rote Ndao dilakukan uji coba pelaksanaan PMT Snack Bergizi di 3 desa lokus uji coba penerapan kebijakan baru ini. Menurut rencana tahun 2023 PMT Snack Bergizi ini akan dilakukan pada semua desa di Kabupaten Rote Ndao.

Adapun 3 desa lokus dimaksud yakni Desa Loleoen dan Kuli Aisele di Kecamatan Lobalain serta Desa Holulai di Kecamatan Loaholu. Jumlah sasaran sebanyak 42 anak dengan durasi pelaksanaan selama 60 hari. PMT Snack Bergizi yang diberikan diolah dari bahan pangan lokal kelor, rumput laut, kacang hijau, madu, pisang dan abon ikan.
Pada perdana pelaksanaannya, dipantau langsung Wabup Stef sebagai Ketua TPPS Kabupaten Rote Ndao pada 11 Oktober 2022 lalu. Ia didampingi Kepala Dinas P3AP2KB Regina A. V. Kedoh,S.STP.M.Si, Kepala Dinas Kesehatan dr. Nelly Feby Riwu, Kepala Desa masing-masing, Ketua TP PKK desa, tenaga gizi Puskesmas Lobalain dan penyuluh KB.

Wabup Stef kala itu berpesan dalam mendukung pelaksanaan PMT Bergizi ini, para orang tua dan keluarga agar ikut memperhatikan pola makan, sanitasi, perhatian kasih sayang dan pola asuh anak yang berdampak pada status gizi anak. Menurutnya PMT Snack Bergizi sebagai salah satu inovasi yang dilakukan Pemkab Rote Ndao dengan tujuan agar mempermudah anak mendapat asupan gizi yang baik.

” PMT ini dapat menjadi model pembelajaran lanjutan di setiap rumah tangga. Selain memperhatikan pola makan, sanitasi, perhatian kasih sayang juga mempengaruhi pola asuh anak yang berdampak pada status gizi anak. PMT Snack Bergizi ini merupakan salah satu inovasi untuk mempermudah anak mendapat makanan dengan kandungan gizi yang baik. PMT Snack Bergizi diberikan 3 kali sehari yang diantar langsung oleh kader TPK setiap hari ke rumah sasaran,” jelas Wabup Stef.

Sebelumnya, Wabup Stef juga pada Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting tingkat Provinsi NTT di Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan tanggal 1 November 2022 silam, dalam diskusi terbuka bersama Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, juga menyampaikan inovasi yang dilakukan Pemkab Rote Ndao lewat pemberian PMT dalam bentuk snack bergizi untuk memaksimalkan pola pemberian, jarak dan efisien waktu.

” Dengan berbagai bentuk inovasi yang dikembangkan ini merupakan bukti keseriusan Pemerintah untuk memberikan perhatian yang besar dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Rote Ndao,” ungkap Wabup Stef.(P3AP2KB-DKISP)

kekerasan-anak-1

Kerja Lintas Sektor Eliminir Kekerasan Terhadap Anak

Perlindungan anak sudah menjadi salah satu isu yang kompleks dan multi sektor. Perlindungan anak meliputi upaya pencegahan dan penanganan terhadap kekerasan fisik, psikis dan seksual yang mempengaruhi tumbuh kembang dan masa depan anak. Serta pendampingan anak korban kekerasan dan bentuk penanganan lain pasca terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Selain itu edukasi pun penting dilakukan kepada keluarga sebagai pilar pendidikan anak.

Secara data, sejak tahun 2018 ada trend perubahan jumlah kekerasan terhadap anak yang terus terkoreksi. Terjadi kekerasan terhadap anak sebanyak 15 kasus tahun 2018, meningkat menjadi 27 kasus ditahun 2019. Pada 2020 kasus kekerasan terhadap anak juga terkoreksi meningkat menjadi 48 kasus. Dan mengalami penurunan ditahun 2021 menjadi 42 kasus serta sampai periode oktober 2022 ini terdata mengalami penurunan menjadi 34 kasus.

Hal ini yang menjadi point bahasan dalam Rapat Koordinasi Perlindungan Anak yang dilakukan guna memlihat secara spesifik permasalahan kekerasan terhadap anak serta proses penanganannya. Kegiatan ini melibatkan instansi terkait dari unsur Kepolisian, Kejaksaaan, perangkat daerah lingkup Pemkab Rote Ndao dan Pemerhati Perlindungan Anak.

Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus M. Saek,SE,M.Si saat membuka Rakor Perlindungan Anak Tingkat Kabupaten Rote Ndao, jumat (19/11/22) mengatakan isu kekerasan terhadap anak ini menjadi isu yang kompleks dan multi sektor. Sehingga pencegahan dan penanganannya pun harus melibatkan seluruh stakeholder. Ia didampingi Kepala Dinas P3AP2KB Regina A. V. Kedoh,S.STP,M.Si.

Menurut Wabup Stef, kasus kekerasan terhadap anak yang bersifat fluktuatif dengan yang tertinggi adalah kasus kekerasan seksual. Sehingga keseluruhan sajian data kekerasan terhadap anak akan disinkronkan dan harmonisasi bersama semua stakeholder.

” Nah faktor utamanya adalah ekonomi, penggunaan media sosial, dampak pernikahan usia dini, kepribadian psikologis dalam kondisi yang tidak stabil dan kondisi perempuan dan laki-laki yang diposisikan tidak setara dalam masyarakat serta persepsi mengenai kekerasan dalam rumah tangga yang dianggap sebagai masalah internal rumah tangga bukan masalah sosial,” jelas Wabup Stef.

Lanjut Wabup Stef, anak yang menjadi korban kekerasan perlu mendapat perhatian dan penanganan secara khusus. Penanganannya, kata Wabup Stef melibatkan orang tua, keluarga, pemerintah dan peran serta masyarakat. Selain itu dibutuhkan pula strategi dalam penanganan kekerasan terhadap anak ini. Strategi yang dilakukan harus mampu mencegah dan menangani tindak kekerasan dengan kerjasama berbagai pihak agar strategi yang dilakukan berjalan secara komprehensif.

” Melalui kegiatan rakor ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk upaya memperkuat sinergitas antar stakeholder dalam rangka perlindungan terhadap anak sehingga tercipta integrasi, sinkronisasi dan sinergitas yang berkesinambungan dengan lintas sektor,” jelas Wabup Stef.

Rakor ini juga mesti menjadi suluh bagi kebijakan tentang perlindungan kekerasan terhadap anak serta optimalisasi upaya pencegahan melalui berbagai cara termasuk juga peningkatan kapasitas SDM dalam memberikan pelayanan bagi korban kekerasan terhadap anak.

Wabup Stef juga berharap rakor ini memberikan output yang kontributif demi tercapainya komitmen bersama untuk pembangunan di bidang perlindungan anak, mencegah dan menurunkan kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Rote Ndao.

” Terimakasih untuk kita semua yang hadir. Kita dengan ketulusan hati bahwa anak menjadi generasi yang penting bagi bangsa yang nantinya akan melanjutkan estafet pembangunan di daerah ini. Sehingga kita memberikan perhatian yang serius,” (Bidkom-DKISP)

kasus-stunting1

Manajemen Audit Kasus Stunting Buat Penanganan Lebih Komprehensif

Penanganan Stunting yang dilakukan secara tepat dan terarah dengan menakar akar permasalahan sampai ke tingkat paling bawah. Sehingga dari situ ditemukan penyebab sekaligus menjadi rekomendasi dalam pengambilan kebijakan serta langkah-langkah strategis pencegahan dan penanganan stunting di daerah ini. Berkenaan dengan itu, kegiatan Diskusi Panel Manajemen Audit Kasus Stunting tingkat Kabupaten Rote Ndao yang dilakukan secara lintas sektor diharapkan mampu menemukan sumber masalah stunting serta solusi pemecahan dalam input rekomendasi bagi pengambilan kebijakan. Diskusi panel ini menghadirkan peserta dari berbagai disiplin ilmu sehingga analisa permasalahan stunting menjadi lebih komprehensif.

Wakil Bupati Rote Ndao Stefanus M. Saek,SE,MSi yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Rote Ndao saat membuka kegiatan Manajemen Audit Kasus Stunting tingkat Kabupaten Rote yang diselenggarakan Pemkab Rote Ndao dan Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi NTT mengatakan Diskusi Panel Manajemen Audit Kasus Stunting ini dilakukan dengan memberikan dampak bagi penanganan stunting ke depan. Sebab dari hasil audit kasus stunting ini, lanjut Wabup Stef, ke depan pemerintah dan semua stakeholder akan melakukan pendampingan keluarga stunting secara konvergensi, responsif, aplikatif serta lebih cepat dan terarah dalam percepatan penurunan stunting di daerah ini.

” Dengan diskusi manajemen audit kasus stunting ini ke depan kita harus benar-benar melakukan pendampingan keluarga stunting secara konvergensi, responsif , aplikatif sehingga memberikan dampak positif pada percepatan pencegahan dan penanganan stunting yang tepat dan terarah,” jelas Wabup Stef.

Wabup Stef secara khusus mengapresiasi kerja Kolaboratif Kantor Perwakilan BKKBN NTT dengan Pemkab Rote Ndao dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Sehingga Ia berharap jajaran OPD lingkup Pemkab Rote Ndao agar tetap menjaga semangat kemitraan dan terus mengoptimalkan program Gerakan Kaka Angkat Adik Asuh (GKA3) dan memberikan pelayanan pendampingan keluarga stunting sesuai harapan masyarakat.

Kepada jajarannya di Kecamatan, Desa dan Kelurahan, Wabup Stef terus memotivasi agar tetap meningkatkan perhatian terhadap percepatan penurunan stunting dengan penyusunan rencana kegiatan yang bersifat operasional dan implementatif sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Rote Ndao Regina A. V. Kedoh,S.STP,M.Si dalam lanjutan Diskusi Panel Manajemen Audit Stunting ini, kamis (17/11/22) menjelaskan setiap kasus stunting di wilayah Kabupaten Rote Ndao perlu diaudit untuk menemukan akar permasalahan sehingga menjadi dasar informasi bagi pengambil kebijakan bersama semua stakeholder menyusun strategi penanganan kedepan.

” Perlu berbagai strategi percepatan dalam upaya yang dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi dari level pemerintah pusat sampai ke daerah-daerah dan seterusnya sampai ke kecamatan, desa dan kelurahan. Sehingga perlu adanya hal-hal praktis untuk ditindaklanjuti oleh tataran level yang dekat dengan masyarakat serta melaksanakan berbagai aksi sehingga apa yang menjadi harapan kita bersama dalam mewujudkan amanat ini bisa tercapai,” ungkap Regi.

 

Lanjut Regi, pihaknya telah melakukan pengisian kertas kerja sebagai sampel di beberapa wilayah Kabupaten Rote Ndao yakni Desa Nggelodae Kecamatan Rote Selatan dan Desa Loleoen kecamata Lobalain. Kertas Kerja tersebut telah disampaikan ke tim pakar yang terdiri dari dokter spesialis anak dan dokter spesialis kandungan serta ahli gizi untuk dilakukan analisis terhadap semua data yang disajikan.

” Hari ini akan didiskusikan bersama. Akan dijelaskan oleh tim pakar agar semua bisa mengetahui hasil analisis terhadap pengisian kertas kerja. Hasil kajian terkait kasus stunting periode agustus yang sudah dilakukan secara teknis dan cermat oleh TPPS Kabupaten. Kondisi stunting kita diperiode agustus setelah dianalisi ternyata ada beberapa penyebab kerentanan terjadinya kasus baik kasus baru maupun lama. Dengan berbagai analisia penyebabnya,” jelasnya.

Menurutnya hasil kajian TPPS Kabupaten dan analisa Tim Pakar yang diramu dalam diskusi panel ini selanjutnya menghasilkan rekomendasi yang akan disampaikan kepada TPPS Kabupaten untuk dilakukan pengembangan inovasi dan gerakan bersama dalam rangka percepatan penurunan stunting.

Widyaiswara Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi NTT Theodorus Mario de Robert, M.Pd,SBG menambahkan manajemen audit kasus stunting dilakukan dengan fokus pada membedah kasus pada kertas kerja. Tahapannya adalah pendataan yang dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan akan dikumpulkan oleh TPPS Desa dan Kelurahan. Selanjutnya TPPS Desa menyampaikan hasil pendataan tersebut ke TPPS Kecamatan dan dilakukan mini Lokakarya di kecamatan yang dipimpin oleh Camat. Dari minilok ini akan diketahui wilayah dengan tingkat stuntingnya masing-masing.

” Untuk wilayah-wilayah itu kita lakukan audit kasus stunting dengan pengisian kertas kerja. Supaya kasusnya dibedah dan bisa kita dapatkan rekomendasi untuk kasus ini seperti apa. Jadi kegiatan ini juga menghasilkan rekomendasi dan rencana tidak lanjut dari hasil yang ditemukan. Ini yang kita bahas sekarang,” jelasnya.(Bidkom-DKISP)

workshop-petugas-data3

Disdukcapil adakan WORKSHOP Petugas Registrasi Desa

Disdukcapil Kabupaten Rote Ndao kembali melakukan penguatan terhadap petugas registrasi desa melalui kegiatan Workshop yang dikemas dalam bentuk FGD Publik Haring yang bertempat  di ruang loket pelayanan Adminduk Disdukcapil Kab. Rote Ndao pada Selasa,15/11/2022.

Hal ini dilakukan guna meningkatkan pemahaman petugas registrasi desa dan sekaligus guna mendapat input masukan dari stakeholder dan masyarakat tentang evaluasi Pelayanan Adminduk selama ini oleh Disdukcapil Kab Rote Ndao dan kemungkinan perbaikan – perbaikan ke depan termasuk rencana adanya loket pelayanan Adminduk di Desa; Kata Petson S.Hangge, S.Sos, Kadis Dukcapil Kab. Rote Ndao dalam paparannya.

Pada kesempatan tersebut, Kadis Dukcapil Kab Rote Ndao didampingi Sekretaris  Dukcapil Kab Rote Ndao, Daniel Tungga dan Para Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional Disdukcapil Kab Rote Ndao. Turut hadir Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Rote Ndao, Feky Boelan, S.Pd juga menyampaikan apresiasi terhadap pelayanan Adminduk masyarakat yang selama ini telah dilakukan oleh Disdukcapil Kab Rote Ndao namun demikian menitipkan harapan untuk sekiranya senyum, sapa dan salam dalam pelayanan oleh petugas Disdukcapil terus menjadi perhatian untuk membahagiakan masyarakat.

Feky Boelan juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Rote Ndao dan Sekretaris Daerah yg telah memberikan support kepada Disdukcapil Kab. Rote Ndao dalam penganggaran dan SDM.

Sementara itu salah satu peserta yaitu Kepala Desa Oematamboli, Onisius Balukh, menyoroti tentang Pemanfaatan Dokumen Kependudukan dan Data Kependudukan yang semakin meningkat diperlukan oleh Desa dan pelayan publik untuk itu sekiranya Disdukcapil Kab Rote Ndao membantu pelayanan Adminduk bagi Penduduk usia 17 Tahun untuk Pemilu, Disabilitas dan Lansia serta pasangan orang tua dulu yang belum memiliki, KK, KTP elektronik dan Akta Perkawinan serta Akta bagi anak-anak.

Selain itu juga Camat Lobalain, Nusry Zakarias, menyampaikan bahwa keberhasilan Pelayanan Adminduk adalah tanggung jawab bersama antara Kita juga termasuk desa – desa yg memberikan input data. Dan terimakasih kepada Disdukcapil Kab. Rote Ndao yang telah membantu masyarakat bencana Seroja memperoleh keterangan Kependudukan sehingga pencairan dana berjalan dengan baik di Perbankan.

Peserta yg mengikuti Kegiatan adalah Para Kepala Desa dan Sekretaris Desa serta Perwakilan dari Kecamatan-kecamatan dan Tokoh Agama dan pelaku pelayanan Adminduk sebanyak 125 orang. (dukcapil_dkisp)

stunting-produktif2

Penurunan Stunting Menyasar Usia Produktif dan Catin

Upaya terpadu penanganan Stunting di daerah ini terus dilakukan. Program dan kegiatan digulirkan serta diperkuat dengan beragam inovasi yang implementasinya memberikan dampak bagi penurunan angka Stunting di daerah.

Pemkab Rote Ndao juga baru saja menggulirkan kebijakan baru penanganan Stunting yakni Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan format baru. Yakni tiga keping biskuit tinggi nutrisi karena terbuat dari campuran daging, ikan, telur dan sayuran di berikan setiap hari kepada Baduta stunting. Diberikan selama 6 bulan berturut-turut dan pelaksanaannya akan terus dipantau oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten, kecamatan, Desa dan Kelurahan.

Selain itu, kebijakan penurunan stunting kini menyasar usia produktif terutama kaum muda mudi yang hendak membangun rumah tangga. Sebelum menikah, para calon pengantin diikutkan dalam kegiatan konseling dan pemeriksaan kesehatan reproduksi. Konseling berkaitan dengan kesiapan mental dan kemapanan secara ekonomi serta pemeriksaan kesehatan untuk memastikan bayi yang lahir dalam kondisi normal.

Wakil Bupati Rote Ndao yang juga ketua TPPS Kabupaten, Stefanus M. Saek,SE,M.Si mengingatkan hal ini ketika membuka Rapat Koordinasi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting di aula Dekranasda, senin (14/11/22) lalu. Ia didampingi Asisten Administrasi Umum Jermi Haning,Ph.D dan Kepala P3AP2KB Regina Kedoh,S.STP,M.Si. Wabup Stef mengatakan sebagai salah satu upaya percepatan penurunan stunting maka calon pengantin wajib melakukan konseling dan pemeriksaan kesehatan tiga bulan sebelum melangsungkan pernikahan. Yang dipersiapkan tidak hanya kesiapan mental tapi juga kesehatan reproduksi dan ekonomi. Sehingga diharapkan sebelum menikah calon pengantin dalam kondisi sehat reproduksi dan fisik serta siap secara ekonomi.

” Intervensi pada Catin (calon pengantin) sangat penting sebagai upaya preventif mencegah bayi stunting. Upaya itu dilakukan dengan pendidikan Catin yang ditindaklanjuti pendampingan kesiapan menikah dan hamil kepada Catin. Ada tiga bekal yang harus dipersiapkan oleh calon pengantin yakni kesehatan reproduksi, kesehatan keluarga, cara hidup berkeluarga dan ekonomi keluarga,” jelas Wabup Stef.

Dan dalam berbagai upaya penurunan stunting ini, lanjut Wabup Stef, agar berpedoman pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting (RAN-PASTI) sebagai jabaran operasional dilapangan dengan memperkuat konvergensi dengan kelompok sasaran calon pengantin. Perpes 72 Tahun 2021 dan RAN-PASTI ini memuat strategi nasional percepatan penurunan stunting yang ditujukan untuk menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan serta meningkatkan akses terhadap air minum dan sanitasi.

Wabup Stef mendorong kerjasama antar instansi serta meningkatkan budaya kerja keras dalam semangat kemitraan untuk memberikan pelayanan yang lebih berkualitas sesuai harapan masyarakat. Juga dalam pelaksanaan bimbingan pra nikah agar menyempurnakan materi terkait kesehatan reproduksi dan 1000 hari pertama kehidupan.

Wabup Stef juga mengapresiasi peran strategis semua stakeholder di daerah khususnya tokoh agama yang ikut memberikan dukungan berkaitan dengan pendidikan pra nikah. Menurutnya tokoh agama mengambil peran dalam konseling pra nikah bagi calon pengantin dan disetiap khotbah, ceramah, tausiah kepada masyarakat.

” Kebersamaan kita hendaklah dimaknai sebagai menyelaraskan dan mensinergikan pelaksanaan percepatan penurunan stunting dan sudah sangat tepat jika pemerintah melibatkan tokoh agama dalam upaya percepatan penurunan stunting ini,” ungkap Wabup Stef.

Sejalan dengan komitmen kerja kolaboratif antar stakeholder di daerah ini, sehingga Rakor Percepatan Penurunan Stunting ini antara lain menghasilkan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama antara Pemkab Rote Ndao dengan Pimpinan Umat Beragama tentang Pencegahan Stunting Bagi Pasangan Suami Istri Berbasis Ketahanan Keluarga Yang Setara Gender.(P3AP2KB-DKISP)

Tingkatkan SDM ASN Rote Ndao, Bapelitbang Gaet Diskominfostatper Gelar Pelatihan Videografis

Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia di lingkup Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemeritah daerah Kabupaten Rote Ndao, maka Bapelitbang bekerjasama dengan Dinas kominfostatper menggelar pelatihan pembuatan video inovasi daerah. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari sejak tanggal 14-15 November bertempat di kantor Bapelitbang Rote Ndao.

Membuka kegiatan ini, pejabat PLT Bapelitbang Jermi Haning dalam sambutannya menyampaikan apresiasi bagi Bapelitbang yang telah menggagas ide untuk melakukan kegiatan pelatihan pembuatan video ini. Ia menuturkan bahwa video saat ini menjadi sarana yang banyak digunakan dalam menyampaikan pesan maupun informasi. Menurutnya dengan adanya kegiatan peningkatan SDM di lingkup ASN Rote Ndao maka akan membuat ASN menjadi lebih terampil dalam mengemas pesan terkait dengan inovasi daerah yang sudah atau yang nantinya akan digagas.

Jermi juga berharap agar diakhir dari pelatihan ini setiap ASN mampu menghasilkan minimal satu video yang memuat terkait dengan inovasi yang ada dimasing-masing perangkat daerah. Adapun video yang terbaik akan dipilah dan diposting di web Pemda Rote Ndao.
“Jadi diakhir dari pelatihan ini diharapakan semua dapat menghasilkan satu video terkait dengan inovasi yang ada, sehingga video terbaik akan di posting nantinya di web Pemda,” jelasnya.

Dalam sambutannya didepan peserta pelatihan videografis dari seluruh OPD Rote Ndao, Jermi juga menegaskan bahwa sebuah video yang baik harus berisikan fakta atau kebenaran. Ia juga sangat mendukung untuk para peserta dapat melakukan survei atau penelitian terlebih dahulu sebelum para peserta kelak nanti akan menyusun sebuah video.

” Video yang baik itu harus terdiri dari rangkaian fakta yang mampu dipertanggungjawabkan, kita tidak bisa hanya buat video asal-asal. Video nanti yang dihasilkan akan di tonton oleh banyak orang sehingga kita harus merencanakan pembuatan video dengan baik.

Sementara itu Sekretaris Bapelitabang Rote Ndao, Janwes Nauk dalam pelatihan tersebut menekankan bagaimana sebuah video dapat memberikan dampak atau efek pada perubahan perilaku pada masyarakat saat ini. Ia menekankan bahwa generasi zaman sekarang menjadikan video sebagai salah satu bentuk cara  untuk dapat menyalurkan aspirasi dalam berbagai aspek kehidupan saat ini.  Menurutnya dengan adanya pelatihan pembuatan video ini maka segenap ASN pemda Rote Ndao dapat belajar bagaimana membangun narasi  yang baik untuk dapat menciptakan seuatu video yang tidak saja menarik namun juga mampu membawa perubahan perilaku sesuai dengan pesan yang ingin video tersebut dibentuk.

Dalam pelatihan tersebut terpantau para peserta yang hadir dari seluruh OPD di Kabupaten Rote Ndao terlihat antusias untuk menghasilkan video inovasi dari perangkat masing-masing. Hal ini nampak dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan para peserta ketika pelatihan video berlangsung. Untuk diketahui bahwa dalam pelatihan video tersebut melibatkan 36 OPD, 11 Kecamatan, 7 Kelurahan dan 12 Puskesmas yang tersebar didaratan Rote Ndao. Akhir dari pelatihan video ini yakni adanya video inovasi dari setiap OPD yang telah terlibat dalam kegiatan pelatihan videografis. (DKISP)

coding-sd-22

Belajar Coding Sebagai Bekal Ketrampilan Siswa Dalam Menjawab Kebutuhan Industri Digital

Saat ini kita telah memasuki era teknologi informasi digital yang telah ada diseluruh aspek kehidupan kita hingga ke pelosok-pelosok tidak terkecuali daerah kita tercinta ini. Sehingga sebagai upaya meningkatkan kompetensi serta literasi digital kepada anak-anak sejak dini, maka Dinas Pendidikan dituntut untuk mampu memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi siswa sesuai perkembangan zaman.

Untuk itu Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Rote Ndao pada tahun 2022 membuat sebuah program inovasi yaitu Pelatihan Coding bagi anak SD dan SMP di Kabupaten Rote Ndao yang dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Rote Ndao, Yosep Pandie,S.Pd yang bertempat di gedung SD Inpres Mokdale pada Selasa, 15/11/2022 sore.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Rote Ndao, Josep Pandie mewakili Bupati Rote Ndao dalam sambutannya saat membuka kegiatan pelatihan Coding bagi Siswa SD dan SMP ini menyatakan bahwa program pelatihan Coding ini selain bertujuan meningkatkan keterampilan digital siswa dalam menjawab kebutuhan industri saat ini, juga bisa menjadi salah satu ruang pengembangan diri bagi siswa yang mempunyai minat dan bakat di bidang teknologi informasi.

Lanjut Kadis PKO bahwa untuk tahap pertama, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Rote Ndao menyiapkan kuota gratis yang diberikan kepada 25 siswa SD dan 25 siswa SMP, dimana para peserta akan dibimbing oleh mentor yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Yosep Pandie berharap bahwa murid-murid yang terpilih dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menambah keahlian di luar mata pelajaran yang diberikan di sekolah.  Kepada para orang tua, kami berharap Bapa Mama dapat memberikan motivasi dan pendampingan kepada anak-anak dalam mengikuti kegiatan ini. Kepada rekan-rekan di Dinasi PKO Rote Ndao dan Bapak Ibu yang telah dilatih sebagai Guru Coding untuk Rote Ndao, kami berharap dapat menjalankan tugas mengawasi jalannya kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Semoga tidak hanya tahun ini, namun pada tahun-tahun ke depan, kita dapat terus melaksanakan Kelas Coding ini supaya dari Rote Ndao bisa lahir programmer-programmer yang membuat banyak inovasi digital di masa mendatang.

Yosep Pandie juga terus mengharapkan dukungan dari para orang tua untuk mulai mendorong anak belajar coding sederhana sejak dini, karena dengan adanya pelatihan coding ini siswa diharapkan dapat :

  1. Meningkatkan kemampuan Problem Solving, dimana dalam dunia pemrograman siswa akan ditantang dan diminta untuk memecahkan masalah;
  2. Meningkatkan kemampuan Computational Thinking, dimana anak akan mampuan memecahkan masalah dengan bantuan computer;
  3. Meningkatkan kreatifitas, yang artinya dengan belajar coding dapat mendorong anak untuk menemukan solusi yang dapat diterapkan untuk tantangan apa pun yang mereka hadapi;
  4. Meningkatkan kemampuan komunikasi, dimana anak akan terdorong untuk memiliki keterampilan komunikasi yang bermanfaat bagi mereka untuk menavigasi lingkungan sosial, berkolaborasi dengan orang lain, berkinerja baik secara akademis, dan mencapai tujuan mereka;
  5. Mendorong kegigihan anak, di mana kemampuan anak untuk belajar dapat ditingkatkan, disesuaikan sesuai kebutuhan, dan mendorongnya melawan kegagalan yang dapat melemahkan semangatnya;
  6. Meningkatkan kemampuanDigital Literacy, dimana anak dapat mencari sebuah topik secara online, menemukan informasi yang relevan mengenai topik tersebut, dan kemudian berpikir kritis sesuai dengan informasi yang mereka terima.

Kegiatan pelatihan Coding bagi Siswa SD dan SMP tahap dasar ini akan berlangsung selama 16 kali pertemuan dan setiap minggu 4 kali pertemuan sehingga diharapkan bisa berakhir pada bulan Desember 2022 sebelum anak-anak memasuki masa libur Natal.

Diakhir pembukaan kegiatan pelatihan coding ini diserahkan secara simbolis handphone kepada 2 orang perwakilan siswa yang nantinya hanphone ini akan digunakan sebagai media dalam pembelajaran membuat coding. (PKO & DKISP)