20140430_231909_sistem-rujukan-bpjs

BPJS Siap Bagi-bagi Ambulan ke Seluruh RS di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR – Direktur Keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Herdy Tristanto menegaskan komitmennya terhadap masalah kesehatan dan kecelakaan kerja.

Pada tahun 2014, lembaga berbadan hukum publik ini menyerahkan 11 ambulans trauma center kepada rumah sakit di seluruh Indonesia dengan anggaran sebesar Rp 5,5 miliar.

“Hal ini adalah bagian dari kegiatan BPJS Ketenagakerjaan. Kami juga membagikan ambulans kepada rumah sakit di beberapa provinsi lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan operasional serta mendukung terciptanya pelayanan prima,” kata Herdy, Sabtu (10/5).

Menurut Herdy, meskipun secara kelembagaan telah berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan, pihaknya tetap yakin bahwa pengadaan ambulans ini akan tetap ada, terkait adanya program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

“Nantinya, sumber anggarannya bisa dari CSR (corporate social responsibility),” ujarnya.

Direktur Rumah Sakit Bina Husada Wisnu Santoso mengatakan, diberlakukannya program ini dapat membantu setiap rumah sakit dalam meningkatkan dan mendukung pelayanan yang optimal.

“Bentuk awal dari kerja sama, kami ditunjuk sebagai trauma center oleh PT Jamsostek dengan program JPK yang sekarang menjadi BPJS. Kerja sama ini telah memasuki tahun ketiga. Semoga, ke depannya, kami dapat terus menjalin kerja sama dengan baik,” papar Wisnu seusai menerima bantuan ambulans. (Ramdhan Triyadi Bempah)

20140507_162241_diskusi-visi-dan-misi-ham-capres

Kivlan Zein: Saya Bakal Seret Megawati

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen, tampak bernafsu mengungkap semua pihak yang diyakininya terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) selama era awal reformasi.

Terbaru, Mantan Kepala Staf Komando Strategis TNI Angkatan Darat (Kasad) itu mengklaim memiliki bukti autentik keterlibatan Megawati dalam kerusuhan di Cawang, November 1998, yang mengakibatkan tiga anggota Pam Swakarsa tewas.

“Megawati bakal terluka kalau saya buka semuanya. Asal Komnas HAM berani, saya bakal seret Megawati dan semua orang yang terlibat dalam kerusuhan Cawang itu,” kata Kivlan Zen kepada Tribunnews.com, Kamis (8/5/2014).

Ia mengatakan, Megawati dan sejumlah tokoh Partai Demokrasi Indonesia Pro-Megawati Soekarnoputri (PDI Promeg) kala itu mengetahui bahkan mensponsori peristiwa berdarah yang terjadi di Cawang, Jakarta Timur, 13 November 1998.

Kivlan mengungkapkan, dirinya memiliki foto yang menunjukkan massa penyerang dan pembunuh tiga anggoa Pam Swakarsa ketika itu memakai atribut PDI Promeg.

Ia mengungkapkan, massa perusuh tersebut merupakan asuhan salah satu pentolan partai yang menjadi cikal bakal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut, yakni Roy BB Janis.

“Saya juga tahu, sebelum peristiwa itu terjadi, massa itu berkumpul di posko Arifin Panigoro, yang juga pendukung Megawati. Semuanya bakal saya ungkap, asal Komnas HAM Berani, jangan hanya menyudutkan ABRI (TNI),” tandasnya.

Untuk diketahui, dikutip dari Wikipedia, peristiwa Cawang terjadi 13 November 1998, siang hari sebelum terjadinya Tragedi Semanggi. Tiga anggota Pam Swakarsa tewas dikeroyok massa kala itu.

Peristiwanya bermula ketika sekitar 30 orang (rata-rata bertubuh gempal, berwajah keras, dan berikat kepala hijau), menghadang ratusan mahasiswa di jembatan Cawang, Jakarta Timur.

Sekelompok Pam Swakarsa ini, bersiaga berbaris di depan barikade polisi dan tentara, menyerupai tameng.

Melihat hal ini, massa setempat yang awalnya hanya menonton mahasiswa berdemonstrasi, serta merta melempari Pam Swakarsa dengan batu.

Pasukan Pam Swakarsa sempat membalas dengan lemparan batu pula, seraya mengacung-acungkan badik, sebelum akhirnya lari.

Lima dari mereka terjebak di sebuah tanah lapang berawa-rawa tak jauh dari jembatan itu, di tengah kepungan massa yang bersenjatakan kayu, batu, dan besi.

Tinju, tendangan, pukulan kayu, dan besi serta hunjaman batu menghajar mereka. Dua orang dilarikan ke rumah sakit setelah babak belur. Tiga lainnya tewas.

Hingga berita ini diunggah, Megawati Soekarnoputri, Roy BB Janis, dan Arifin Panigoro belum bisa dikonfirmasi.