total-data-pasien-di-rote15

Hari ini ODP di Rote Ndao Meningkat jadi 37 Orang

Sesuai data yang di update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) hingga Rabu (1/4) pukul 18.00 Wita, jumlah Orang Dalam Pemantauan meningkat menjadi  37 orang atau bertambah dua orang dari Selasa (31/3), yakni sebanyak 35 orang.

Demikian rilis Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao yang ditandatangani Kepala Bagian Umum, Humas, dan Protokol Setda Rote Ndao Handryans Bessie, yang diterima media ini, Rabu (1/4) petang.

Dalam rilis tersebut, juru bicara Gugus Tugas  Covid-19 Kabupaten Rote Ndao dr. W. P Adhy,Sp.PD menjelaskan, penambahan dua ODP tersebut, yakni satu di Kecamatan Lobalain dan satunya di Rote Barat Daya.

Ia menjelaskan 37 ODP tersebut tersebar di tujuh wilayah kecamatan, yakniLobalain sebanyak 12 orang, Pantai Baru tiga orang, Rote Barat tiga orang, Rote Barat Daya 13 orang, Rote Barat Laut satu orang, Rote Tengah satu orang, dan Rote Timur empat orang.

Sedangkan, Orang Yang Diperiksa di Rumah (ODR) yang semula 349 orang bertambah menjadi 384 orang, terdiri dari Orang dari Area Risiko (OAR) 248 orang, yang melakukan Kontak dengan   orang berisiko Rendah (KR) sebanyak 125 orang, dan yang melakukan Kontak dengan orang berisiko Tinggi (KT) sebanyak 11 orang.

“Adanya kenaikan ODP dan ODR tersebut karena kenaikan orang yang melakukan kontak dengan OAR dan kontak dengan ODP. Jumlah OAR kita memang cenderung menurun, tapi kita masih pantau hal ini apakah memang orang dari area risiko yang dating  ke Rote menurun atau  orang tidak jujur mengisi data. Sementara hingga saat ini belum ada yang masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect, maupunPositif Corona,” kata dia.

Masih menurutnya, terkait jumlah OAR dan ODP yang menempati karantina di Rusun Ne’e, sesua data Senin (30/3) sebanyak 13 OAR dan 6 ODP, Selasa (31/3) sebanyak 37 OAR dan 6 ODP, dan Rabu (1/4) 26 OAR dan 7 ODP.  Sementara yang melaksanakan karantina mandiri di rumah masing-masing sebanyak 358 orang.

Terkait anggaran yang dialokasikan untuk pencegahan maupun penanganan Covid19,  dr Adhy katakan, pada prinsipnya  penanganan Covid 19 adalah prioritas pemerintah dalam penganggaran APBD.  Bahkan, sudah dilakukan  proses realokasi anggaran dari OPD- OPD untuk mendukung upaya Percepatan Pencegahan  dan Penanganan Covid 19.

 “Jadi setiap OPD berkontribusi terhadap gugus tugas, baik secara anggaran maupun sumber daya lainnya,” kata dia.

Menurutnya, peralatan APD sudah dipesan sebelumnya,sebagian sudah ada yang dalam perjalanan. Kendalanya adalah ketersediaan alat yang dibutuhkan sangat terbatas di pasar. Namun, GugusTugas juga telah menerima bantuan APD hasil donasi pihak lain yang bersimpati, dan sebagian juga masih dalam pengiriman.

Soal kesiapan RSUD dan Puskesmas. Jelas dr Adhy, pada prinsipnya selalu siap, di mana  saat ini terus melakukan pemantauan semua OAR dan ODP sesuai protokol yang ada. Penangan sementara dilakukan sesuai dengan protocol kesehatan dan protokol gugus tugas.

Kendala yang dihadapi, kata dia, adalah ketikaada OAR tapi tidak jujur dalam mengisi data, sehingga tidak terpantau dan beberapa hari kemudian dilaporkan oleh masyarakat jika yang bersangkutan sakit. Jeda waktu antara tiba di Rote dan muncul gejala sakit tidak terpantau aktivitasnya dan kontaknya dengan siapa saja.

“Ini yang mengkhawatirkan kita. Apalagi jika orang-orang seperti ini langsung berobat ke Puskesmas atau dokter, maka tenaga medis akan mengira jika yang bersangktan sakit batuk pilek biasa dan ditangani tanpa protocol Gugus Tugas Covid-19.  . (humaspemdaRN)

v-con-corona-ntt1

Bahas Covid-19, Gubernur NTT Lakukan Vicon Bersama Bupati/Walikota se-NTT

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat melakukan Video Conference (VICON) bersama Wali kota, Bupati dan Forkompimda se-Nusa Tenggara Timur  untuk mengecek persiapan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menghadapi ancaman Virus Corona yang mewabah didunia saat ini pada Selasa (31/3/2020),

Video Conference (vicon) ini diikuti Bupati Rote Ndao, Paulina Haning-Bullu,SE dann Wakil Bupati Rote Ndao, Stefanus M. Saek,SE,M.Si serta seluruh Forkopimda Rote Ndao yang bertempat di ruang kerja Bupati Rote Ndao.

Gubernur NTT melalui Video Converence bersama walikota dan bupati se-NTT membahas tentang penanganan Covid-19 seperti jumlah ODP dan PDP, persediaan alat kelengkapan medis, SDM medis, alokasi anggaran, dampak sosial ekonomi dan jalur transportasi darat, udara, dan laut.

” Saya minta kepada seluruh Bupati se-NTT untuk menganggarkan dana dan serius dalam penangangan Covid-19, kita bersyukur sampai hari ini di Provinsi NTT status masih negatif, tetapi kita harus menjaga kondisi terburuk apabila status menjadi positif kita telah siap,” kata Gubernur.

Gubernur Laiskodat menegaskan agar anggaran tersebut harus betul-betul dipersiapkan dan dapat dipergunakan pada sektor kesehatan untuk penanganan Covid-19 sehingga harus dirincikan secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara baik dan benar.

Lanjut Gubernur bahwa untuk mengatasi dampak sosial dan ekonomi yang timbul dalam masyarakat dalam kurun waktu 6 bulan ini, setiap Kabupaten/Kota harus mengalokasikan dana paling sedikit Rp.13 miliard yang akan diperuntukan sebagai bantuan tunai dan non tunai serta bantuan pangan kepada rumah tangga miskin. Bantuan tersebut harus benar-benar tepat sasaran.

Gubernur juga mengatakan bahwa  kerja dan belajar dari rumah sampai tanggal 21 April sesuai dengan instruksi pemerintah pusat tetapi khusus bagi pengambil kebijakan, pimpinan OPD tetap berada di kantor untuk mengambil langkah-langkah agar seluruh pembangunan di NTT tidak macet.

“Untuk rapat-rapat Musrenbang tetap dilaksanakan secara virtual dan terus bekerja sehingga tidak tertunda agenda-agenda pemerintahan”ujar Gubernur

Lebih lanjut Gubernur mengatakan bahwa dari provinsi telah menyiapkan Rp. 270 Miliard lebih untuk 6 bulan ini agar bersama-sama pemerintah kabupaten/kota untuk  menangani masalah sosial ekonomi dan dampak-dampaknya di seluruh NTT .

Selain hal diatas Gubernur juga menyampaikan bahwa untuk penutupan bandara adalah kewenangan Pemerintah Pusat, namun kita juga meminta pertimbangan dari Pemerintah Pusat untuk akses transportasi laut dapat dikurangi.

“untuk penutupan bandara itu tetap tidak boleh ditutup kecuali pemerintah pusat” sahut Gubernur

Pada kesempatan itu pemerintah Provinsi NTT hanya memberikan kesempatan kepada empat kabupaten/kota di NTT mewakili 22 kabupaten/kota menyampaikan apa yang sudah dan akan dilakukan terkait penanganan Covid-19.

Seusai Vicon bersama Gubernur NTT, Bupati Rote Ndao, Paulina Haning-Bullu,SE mengajak kepada unsur  Forkopimda Rote Ndao agar dapat membangun kerja sama yang baik, saling mendukung serta memberikan masukan dalam penanganan Covid-19 sehingga kedepan bisa merefisi apa yang sudah ada yaitu menyangkut  SK Gugus Tugas perlu dibahas bersama-sama untuk mengatur kepengurusan gugus tugas di Rote Ndao.

Lanjut Bupati bahwa saat ini Pemerintah kabupaten juga telah mengeluarkan aturan bagi pengusaha yang ada agar hanya beroperasi sampai dengan jam 2 siang tetapi itu hanya berlaku sampai dengan tanggal 4 April 2020, selanjutnya akan dilakukan efaluasi dan akan dilakukan perubahan lagi.

Bupati juga merasa iba kalau pengusaha itu hanya beroperasi sampai dengan jam 2 siang, apalagi kalau tutup sama sekali maka perekonomian kita pasti terganggu tetapi untuk sementara dalam mencegah penyebaran Covid-19 ini dan dalam waktu dekat akan dipertimbangkan lagi. Kesehatan kita ini lebih penting, karena kesehatan kita tidak bisa beli dengan uang (dkisp)

rusunawa-nee2345

Kondisi  Empat ODP Pertama di Rote Semakin Membaik

Perkembangan hasil penanganan terhadap empat Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang pertama kali diumumkan oleh Pemkab Rote Ndao pada Minggu (22/3) lalu, hingga kini kondisi kesehatannya sudah menunjukkan berangsur pulih seperti sediakala.

Demikian rilis Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao yang ditandatangani Kepala Bagian Umum, Humas, dan Protokol Setda Rote Ndao Handryans Bessie, yang diterima media ini, Selasa (31/3) petang.

Dalam rilis tersebut, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao dr. W. P. Adhy, Sp.PD menjelaskan, sejauh ini kondisi 4 ODP tersebut sudah membaik, namun masih terus dipantau perkembangan klinisnya oleh Gugus Tugas Covid-19 kabupaten dan Puskesmas hingga benar-benar sembuh.

Menurutnya, sampaikapan status empat ODP tersebut tidak dimasukkan lagi dalam daftar ODP atau akan berubah status apabila sudah dinyatakan benar-benar sembuh dan atau selesai masa pemantauan oleh Gugus Tugas.

dr. Adhy menjelaskan, hasil update per 31 Maret 2020 pukul 14.00 WITA, jumlah Orang Dirawat diRumah (ODR) meningkatdari 331 orang menjadi 349 orang. Sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) bertambah satu orang dari jumlah kemarin menjadi 35 orang. Sedangkan belum ada yang masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect, maupun Positif Corona.

Dirincikan dr. Adhy, ODP dipetakan menurut kecamatan dan desa/kelurahan: 1) Kecamatan Lobalain 12 ODP, yakni berasal dari Desa Ba’adale dua orang, Kelurahan Metina 3 orang, Desa Lekunik 1 orang, Kelurahan Mokdale 3 orang, dan Desa Helebeik 2 orang. 2) Kecamatan Rote Barat Laut 1 orang, yakni diKelurahan Busalangga. 3) Kecamatan Rote Tengah 2 ODP yakni dari Kelurahan Onatali dan desa Lidamanu  masing-masing 1 orang. 4) Kecamatan Rote Barat Daya 12 ODP dari Desa Sakubatun 1 orang, Desa Sanggandolu 2 orang, Desa Mbokak 1 orang, Desa Landu 3 orang, Desa Lentera 3 orang, Desa Lalukoen 2 orang. 5) Kecamatan Rote Timur 4 ODP, yakni dari Desa Lakamola 2 orang, Desa Batefalu dan Desa Papela masing-masing satu orang 6) Kecamatan Pantai Baru 1 ODP dari Desa Tunganamo. 7) Kecamatan Rote Barat 3 ODP dari Desa Mbueain 1 orang dan Desa Oenitas 2 orang.

“Jadi, dari rincian  data diatas, jelas bahwa jumlah ODP terbanyak ada pada Kecamatan RBD dengan 12 ODP dan Lobalain dengan 12 ODP sehingga wilayah yang paling berpotensi terjadi peningkatan status ODP adalah 2 kecamatan ini, namun wilayah lain perlu tetap waspada,” kata dia.

Ia menambahkan, rapid test sebanyak 49 buah bantuan provinsi sudah tiba dan akan digunakan dalam tata laksana setelah revisi panduan selesai, memperhitungkan kontinuitas ketersediaan rapid test tersebut.

Sementara APD yang dibutuhkan Gugus Tugas diantaranya sepatu boot, kacamatan safety APD, faceshield, masker N95, masker 3 ply, disposable surgical gown, dan handscoon/sterilgloves. (humaspemdaRN)

UntitleDd

Profil Wilayah

Kondisi Geografis

Kabupaten Rote Ndao merupakan kabupaten yang paling selatan di Negara Republik Indonesia dan merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002.

Secara astronomis Kabupaten Rote Ndao terletak pada posisi paling selatan Wilayah Nusantara yaitu antara 10º25’ LS – 11º15’ LS dan 121º49’ BT – 123º26’ BT. Dengan batas-batas wilayah :  Sebelah  Utara – Laut Sawu, Sebelah Selatan – Samudera Hindia, Sebelah Timur – Selat Pukuafu, Sebelah Barat – Laut Sawu.

Kabupaten ini mempunyai luas wilayah 1280,10 km 2 yang terdiri dari 96 pulau dimana 6 pulau berpenghuni (P. Rote dengan luas 97.854 Ha, P. Usu dengan luas 1.940 Ha, P. Nuse dengan luas 566 Ha, P. Ndao dengan luas 863 Ha, P. Landu dengan luas 643 Ha dan P. Do’o dengan luas 192 Ha dan 90 pulau lainnya tidak dihuni manusia.

Luas wilayah laut  sekitar 2.376 km² dengan panjang garis pantai  330 km, menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Rote Ndao merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 107  pulau, 8 Pulau telah berpenghuni dan 99 Pulau belum berpenghuni dengan topografi bervariasi dari datar 35% (45.250 ha), perbukitan 25% (32.625 ha), lainnya 40% (50.135 ha), kemiringan rata-rata 45º dan ketinggian 0 – 1.500 m diatas permukaan laut

Luas Daerah Rote Ndao Menurut Kacamatan 2018

 

No

 

Kecamatan

Luas Wilayah (Km2)Persentase (%)
01.Rote Barat Daya114,578,95
02.Rote Barat Laut172,4013,47
03.Lobalain145,7011,38
04.Rote Tengah162,5012,69
05.Rote Selatan73,385,73
06.Pantai Baru176,1813,76
07.Rote Timur110,848,66
08.Landu Leko194,0615,16
09.Rote Barat100,489,08
10Ndao Nuse14,191,11
Jumlah1.280,10100,00

 

Iklim & Curah Hujan

Wilayah Rote Ndao beriklim kering yang dipengaruhi oleh angin muson. Periode musim kemarau lebih panjang, yaitu 7 bulan (Mei sampai dengan Nopember) sedangkan musim hujan hanya 5 bulan (Desember sampai dengan April). Suhu udara rata-rata 27oC, suhu maksimum rata-rata 29oC kadang-kadang mencapai 32oC, suhu minimum rata-rata 26,1oC, curah hujan rata-rata 114,1 mm, kelembaban udara rata-rata 84,4 %, kecepatan angin rata-rata 9,2 knot dan tekanan udara rata-rata 1008,5 milibar.

 

peta-pesebaran-covid-19-rn

Metina, Mokdale, dan Landu jadi Wilayah Sebaran ODP Tertinggi

Peta sebaran Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Kabupaten Rote Ndao, sesuai data yang diupdate Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19), yakni terdapat pada tiga wilayah besar, yakni Kelurahan Metina, Kelurahan Mokdale, dan Kecamatan Landu Leko.

Demikian rilis Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao yang ditandatangani Kepala Bagian Umum, Humas, dan Protokol Setda Rote Ndao Handryans Bessie, yang diterima media ini, Senin (30/3) petang.

Dalam rilis tersebut, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao dr. W. P Adhy,Sp.PD menjelaskan, dari peta sebaran tersebut, maka intervensi yang dilakukan Gugus Tugas diprioritaskan pada tiga area berisiko ODP ini dengan mentracing riwayat ODP sebelum dikarantina di Rusun.

Menurutnya, peta persebaran ODP dibuat menggunakan tableau berbasis desa/kelurahan dan kecamatan beserta jumlah dan grafik perkembangan kasus harian, sehingga memudahkan untuk dilihat dan diikuti. Gugus Tugas telah menyiapkan peta persebaran yang dapat diikuti melalui laman web https://rotendaokab.go.id/covid-19.

Ia menjelaskan, keadaan per 30 Maret 2020 pukul 14.00 Wita,  jumlah ODR meningkat hampir 4 persen per hari dari 318 orang menjadi 331 orang. Angka kenaikan ini disumbangkan oleh kenaikan OAR sebesar 1 orang menjadi 228 orang, dan orang yang melakukan kontak dengan OAR yang meningkat dari 91 orang menjadi 103 orang.  Sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) naik dari 27 orang menjadi 34 orang. Sejauh ini yang masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect, maupun Positif Corona belum ada.

“Kenaikan ini terjadi karena masih terdapat orang yang masuk melalui Bandara dan pelabuhan laut, serta warga masih melakukan kontak dengan OAR dan tidak menjaga jarak yang disarankan, serta masih lemahnya ketaatan orang untuk menjalankan protokol karantina mandiri di rumah,” katanya.

Langkah penanganan, kata dr.Adhy,  Pertama, memperketat pemantauan pada OAR, KR dan KT. Kedua, pemantauan intensif ODP di Rusun Ne’e terus dilakukan. Ketiga, Gugus Tugas akan terus memperbaiki kemampuan screening, diagnosis, dan tata laksana dengan terus mengusahakan dan melengkapi rapid test, APD, dan alat kesehatan terkait tatalaksana Covid-19. Keempat, mempersiapkan perubahan SK Gugus Tugas dengan menyesuaikannya sesuai Surat Edaran Mendagri Nomor: 440 Tahun 2020 tentang Pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) Daerah. Kelima, menyiapkan system pemantauan dan evaluasi terpadu melalui pendataan cek list pada tingkat desa/kecamatan dan pintu-pintu masuk di pelabuhan/bandara. Keenam, tetap mendorong masyarakat untuk melaporkan ke GugusTugas apabila didapati ada orang dari area risiko (OAR) yang tiba di Rote selama 14 hari terakhir.

dr. Adhy menambahkan, telah terjadi perbaikan gejala dari seluruh ODP yang dipantau.

Sementara perkembangan terbaru kondisi Alat Pelindung Diri (APD), kata dia, dapat dijelaskan bahwa saat ini Rote Ndao mendapatkan bantuan 7 box masker (50 masker per box) dari saudari Angel Chandra (donator pribadi) di Bandung beserta 1 mesin UV filter. Mesin UV sterilizer ini berguna membantu sterilisasi ulang masker sehingga masker bisa dipakai kembali. Selain itu, bantuan logistic dari BPBD Provinsi NTT juga sudah tiba di Rote, di antaranya 4 paket APD, 2 box masker bedah, 2 box masker N95, 2 box sarung tangan, 1 set baju biru, helm dan sepatu, 50 peaces baju cover, serta 49 rapid test.

 (humaspemdaRN)

total-data-pasien-di-rote12 -

ODP dan OAR yang Dikarantina di Rusun Ne’e Bertambah jadi 17 Orang

Jumlah Orang dari Area Risiko (OAR) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang dikarantina di Rumah Susun (Rusun) Ne’e, Desa Sanggaoen, Kecamatan Lobalain, hingga Minggu 29 Maret 2020 bertambah menjadi 17 orang dari jumlah sebelumnya 12 orang.

Demikian rilis Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao yang ditandatangani Kepala Bagian Umum, Humas, dan Protokol Setda Rote Ndao Handryans Bessie, yang diterima media ini, Minggu (29/3) petang.

Dalam rilis tersebut, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao dr. Widyanto P. Adhy,Sp.PD menjelaskan, Gugus Tugas Covid-19 secara aktif terus melakukan pemantauan terhadap OAR dan ODP, baik yang melaksanakan karantina mandiri di rumah, maupun di Rusun Ne’e. Langkah ini dilakukan untuk bisa memantau secara simultan OAR dan ODP yang menjalankan karantina secara disiplin, sesuai protokol yang telah ditetapkan.

Menurutnya, update perkembangan penanganan kasus Covid-19 hingga Minggu 29 Maret 2020, pukul 18.00 WITA,  sebagai berikut: jumlah ODR (Orang yang Diperiksa di Rumah) sebanyak 318 orang dan ODP 27 orang. 318 ODR terdiri dari 227 OAR, 85 KR (orang kontak risiko rendah) dan 6 KT (orang dengan kontak risiko tinggi)Sementara  yang masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Suspect, maupun Positif Corona belum ada.

Khusus untuk OAR dan ODP yang ditempatkan dalam karantina yang pada Sabtu, 28 Maret kemarin sebanyak 12 orang, hari ini bertambah jumlahnya menjadi 17 orang, dengan rincian OAR sebanyak 13 orang dan ODP sebanyak 4 (empat )orang.

“Hari ini lima orang yang dimasukkan ke karantina di Rusun Ne’e guna dipantau secara baik gejala klinisnya, guna meminimalisir penyebaran Covid-19 ke wilayah Kabupaten Rote Ndao,” kata dr. Adhy.

Menurutnya, penambahan jumlah OAR dari 270 orang menjadi 318 orang disebabkan masih berdatangan orang  dari luar Rote Ndao melalui Bandara maupun pelabuhan laut. Sedangkan penambahan jumlah ODP dari 25 orang menjadi 27 orang disebabkan faktor masih belum disiplin dalam menerapkan jaga jarak dan karantina mandiri yang sangat penting dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19.

“Penambahan jumlah OAR tersebut disebabkan karena orang masih berdatangan dari luar daerah melalui Bandara maupun pelabuhan laut, serta ODP masih belum disiplin dalam menerapkan protokoler karantina mandiri,” katanya.

Sementara itu, jelas dr Adhy,  hasil pemantauan dan pemeriksaan yang dilakukan tim medis RSUD Ba’a bekerja sama dengan sejumlah Puskesmas terhadap OAR dan ODP yang dalam isolasi di Rusun Ne’e serta yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing, menunjukkan perbaikan gejala klinis.

Mencermati kondisi peningkatan jumlah OAR dari hari ke hari, kata dia, maka mengacu pada  ketentuan Peraturan Bupati Rote Ndao Nomor 10 Tahun 2020, Gugus Tugas Covid-19 Rote Ndao mengimbau khusus kepada Orang dari Area beRisiko (OAR) agar tidak masuk ke Kabupaten Rote Ndao untuk sementara waktu. Ini penting agar Pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Gugus Tugas Covid-19 bisa menekan angka transmisi lokal, mengingat siapa saja dari area terjangkit Covid-19 bisa terinfeksi penyakit ini.

Masih menurutnya, semua Alat Pelindung Diri (APD) yang ada di Rote saat ini sangat terbatas, termasuk obat tatalaksana Covid-19, rapid test, dan cairan antiseptik, sehingga Gugus Tugas Covid-19 masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Ia menambahkan, hari ini, Minggu 29 Maret 2020, Gugus Tugas Covid-19 melakukan evaluasi internal dan mempersiapkan sistem pemantauan terpadu untuk penegakkan protokol-protokol di lapangan sesuai Keputusan Bupati Rote Ndao Nomor 140/KEP/HK/2020. Penegakkan protokol ini penting dan sudah sesuai dengan himbauan Presiden Republik Indonesia agar masyarakat mendisiplinkan diri dan mengikuti instruksi pemerintah dan pemerintah daerah.

Dikatakan dr. Adhy, dalam pencegahan Covid-19 banyak yang mengira bahwa petugas kesehatan adalah garda terdepan, tapi dalam kasus Covid-19, paramedis bukanlah garda terdepan. Kami berdiri pada garis pertahanan terakhir. Untuk itu, mari Bersama kita ubah paradigma berpikir bahwa dalam pencegahan Covid-19, ujung tombaknya adalah Bapa/Mama/Basodara semua sebagai masyarakat. “Gugus tugas Covid-19 Rote Ndao dan paramedis sangat mengharapkan masyarakat berperan aktif utk memerangi Covid-19 ini dengan menjaga jarak, tinggal di rumah dan menjaga kesehatan sesuai protokol-protokol yang ada.

“Keberhasilan pencegahan Covid-19 sangat tergantung pada Bapa/Mama/To’o/Te’o/Basodara semua. Oleh karena itu, kami berharap agar masyarakat berperan aktif dalam melaporkan keberadaan Orang dari Area beRisiko termasuk yang mengalami gejala batuk/pilek/sakit tenggorokan/sakit kepala kepada Kepala Desa/Lurah dan Camat setempat untuk diteruskan ke Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao,” ujarnya.

Untuk mengikuti perkembangan COVID-19 di Kabupaten Rote Ndao dapat dilihat melalui website Pemerintah Kabupaten Rote Ndao https://rotendaokab.go.id/covid-19 dan laman Facebook Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Rote Ndao: https://www.facebook.com/Gugus-Tugas-Covid-19-Rote-Ndao-104121847900018/. (humaspemdaRN)

total-data-pasien-di-rote12

Delapan OAR dan ODP Sudah Dipulangkan dan Melakukan Karantina Mandiri

Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao kembali merilis perkembangan penanganan kasus Covid-19,  Sabtu 28 Maret 2020, pukul 18.00 Wita, di mana terjadi peningkatan jumlah Orang dari Area Risiko (OAR) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP). Selain itu, dari fakta dan data yang diperoleh dalam penanganan Covid-19 ini, maka GugusTugas mengembangkan istilah baru Orang Diperiksa di Rumah (ODR), yaitu merupakan gabungan antara OAR dan orang yang kontak langsung dengan OAR/ODP.

Demikian rilis Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote  Ndao yang ditandatangani Kepala Bagian Umum, Humas, dan Protokol Setda Rote Ndao Handryans Bessie, yang diterima media ini, Sabtu (28/3) petang.

Data hari ini menunjukkan ODP bergerak naik dari 20 orang menjadi 25 orang. Kenaikan lima orang ini bukan dari OAR yang sudah terdata dan terpantau sebelumnya, tetapi dari orang yang melakukan kontak dengan OAR dan/atau ODP. Sementara, OAR sebanyak 222 orang, dan orang yang melakukan kontak dengan OAR/ODP sebanyak 48 orang.

“Data ini menunjukkan bahwa masyarakat masih belum disiplin dalam menerapkan jaga jarak dan karantina mandiri yang sangat penting dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19,” ujar dr. Widyanto P Adhy, juru bicara GugusTugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao.

Menurutnya, jumlah ODP dan OAR yang telah dikarantina oleh Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao pada Rusun Ne’e sebanyak 12 orang. Di mana dari 12 orang tersebut delapan OAR telah dipulangkan berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tim medis, untuk selanjutnya melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing. Sehingga, sisa  yang berada di karantina sebanyak 10 ODP dan OAR.

“Rusun Ne’e disiapkan Gugus Tugas Covid-19 Rote Ndao untuk menempatkan ODP agar bisa dipantau secara simultan, serta OAR yang tidak menjalankan karantina mandiri secara disiplin. Semuanya dijalankan sesuai protokol yang telah ditetapkan. Hingga saat ini Gugus Tugas Covid-19 secara aktif menjemput ODP yang masih di rumah agar dikarantinakan,” katanya.

 Terkait Alat Pelindung Diri (APD) yang tersedia, dia mengaku, saat ini sangat terbatas. Untuk APD lengkap sesuai standar kesehatan saat ini hanya untuk petugas medis. Sementara masker, saat ini diutamakan untuk petugas kesehatan dan para petugas yang kontak dengan risiko seperti petugas di pelabuhan, bandara, para penjemput ODP atau OAR yang melanggar aturan, dan petugas lain yang berhadapan dengan OAR dan ODP. Kami sangat mengapresiasi Komunitas Ita Esa Rote Ndao dan TP PKK Rote Ndao serta komunitas lainnya serta kelompok-kelompok masyarakat yang sangat proaktif berinisiatif membuat masker-masker secara mandiri dan disalurkan kepada yang membutuhkan.

Masih menurutnya, Rote Ndao mendapat tambahan 10 (sepuluh) set APD dari Pemerintah Provinsi NTT melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT yang sudah didistribusikan kepada Dinas Kesehatan dan RSUD Ba’a. Sementara permintaan bantuan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia saat Webinar Kamis (26/3), namun dijawab bahwa APD dari Pusat difokuskan pada daerah-daerah yang sudah ada konfirmasi kasus positif Covid-19.

Mengenai logistik, Pemkab Rote Ndao melalui Gugus Tugas Covid-19 telah menyiapkan hingga akhir Mei 2020, merespon Keputusan Kepala BNPB Nomor 13.A Tahun 2020 tentang Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia dan Keputusan Bupati Rote Ndao Nomor 129/KEP/HK/2020 tentang Status Siaga Darurat Bencana Non Alam Wabah Penyakit Virus Corona 2019 terhitung tanggal 17 Maret s/d 17 April 2020. Selain itu, juga sudah mempersiapkan jika saja terdapat satu orang terkonfirmasi Covid-19, maka akan diikuti dengan Status Tanggap Darurat sejak adanya kejadian, dan bisa saja menjadi lebih lama dari status keadaan darurat yang ditetapkan Pemerintah Pusat.

Ia mengatakan, Pemkab dan Gugus Tugas Covid-19 sangat berterima kasih apabila masyarakat dengan inisiatifnya sendiri membentuk kelompok-kelompok waspada dan peduli Covid-19 yang bisa mengawal penegakan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Bupati Rote Ndao serta menginformasikan kepada Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao terkait warga yang baru tiba di Kabupaten Rote Ndao dengan riwayat perjalanan dari negara/daerah terjangkit Covid-19.

“Untuk mengikuti perkembangan Covid-19 di Kabupaten Rote Ndao dapat dilihat melalui website Pemkab Rote Ndao https://rotendaokab.go.id/covid-19  dan laman Facebook Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao: https://www.facebook.com/Gugus-Tugas-Covid-19-Rote-Ndao-104121847900018/,” pungkasnya. (humaspemdaRN)

total-data-pasien-di-rote7

Delapan OAR dan Satu ODP Diisolasi di Rusun Ne’e

Hingga saat ini delapan Orang dari Area Risiko (OAR) dan satu Orang Dalam Pengawasan (ODP) telah mendiami Rumah Susun (Rusun) Ne’e, Desa Sanggaoen, Kecamatan Lobalain, sebagai tempat isolasi yang disiapkan khusus Pemkab Rote Ndao untuk  penanganan Covid-19.

Demikian disampaikan juru bicara Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao dr. W. P. Adhy Pangarso, Sp.PD Jumat (27/3).

Dikatakan Adhy, Kamis (26/3) petang hingga malam, tim Gugus Tugas Covid-19  bergerak melakukan penjemputan terhadap delapan OAR dan satu ODP yang sudah dalam pantauan untuk diisolasikan di Rusun Ne’e.

Hal ini, kata dia, karena sesuai Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 10 Tahun 2020 tentang  Percepatan Pencegahan dan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Rote Ndao Pasal 4 Ayat (3) yang menyatakan bahwa dalam hal terdapat OAR yang masuk ke daerah karena alasan tertentu wajib dikarantina pada tempat yang ditetapkan oleh Gugus Tugas Covid-19.

Dijelaskan Adhy, berdasarkan pantauan tim medis terhadap kondisi terakhir delapan OAR tersebut  semuanya dalam keadaan sehat dan belum ditemukan gejala Covid-19, namun sesuai protap mereka masih harus dalam pemantauan selama 14 hari ke depan. Sementara satu ODP tersebut dalam keadaan sakit batuk-pilek.

“Secara keseluruhan kondisi kesehatan orang yang diisolasi baik, namun masih harus diikuti perkembangannya secara cermat hingga 14 hari ke depan. Jika dalam jangka waktu kurang dari 14 hari pemantauan kondisi mereka tetap sehat dan tidak ditemukan gejala Covid-19, maka mereka bisa pulang dengan syarat  menandatangani surat pernyataan untuk menjalani karantina mandiri di rumah sesuai ketentuan Kepbup nomor 140 tahun 2020 ,” katanya.

Ia menambahkan, khusus untuk 20 ODP yang melakukan isolasi secara mandiri di rumah masing-masing, dalam pemantauan tim Gugus Tugas Covid-19 semuanya mulai berangsur pulih.

Masih menurut Adhy, update terakhir hingga pukul 15.00 WITA jumlah OAR bertambah dari 187 orang menjadi 208 orang, jumlah ODP tetap pada angka  20 orang, sementara PDP, suspect, dan positif corona belum ada.

Adhy mendorong seluruh masyarakat agar mengikuti protokol karantina mandiri selama 14 hari sesuai Keputusan Bupati Rote Ndao Nomor 140 Tahun 2020. “Ini penting Bapa, Mama, dan basodara semua. Dengan berada di rumah, maka masyarakat bisa terhindar dari penyebaran Covid-19 sehingga bisa memutus mata rantai penularan karenahingga saat ini virus corona bisa menjangkiti seseorang tanpa adanya gejala-gejala.”

Adhy melanjutkan, “apabila Bapa, Mama, basodara menemukan pendatang berstatus Orang dari Area Risiko (OAR) yang masuk Rote, maka jangan lupa untuk laporkan pendatang di Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Rote melalui nomer 085-239-130-892 atau 0812-4649-3641 atau 081-353-894-230 serta aktif memantau website Pemda Rote Ndao di www.rotendaokab.go.id/covid-19”

“Menurut rencana hari ini pemerintah melalui Gugus Tugas Covid-19 akan menjemput ODP dan OAR yang terlanjur masuk Rote Ndao pagi dan siang tadi,” kata Adhy mengakhiri. (HumasPemdaRN).

total-data-pasien-di-rote6

Tiga Orang dari Area Resiko (OAR) diisolasi di Rusunawa Ne’e

Baa;- Sesuai dengan hasil kerja keras Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao untuk meminimalisir penyebaran penyakit Covid-19 di Kabupaten Rote Ndao dengan bertindak cepat dan tegas dilapangan melakukan upaya cek keberadaan orang dari Area Resiko telah membuahkan hasil

Dimana dari gencarnya upaya sosialisasi penyadaran kepada masyarakat luas didapati satu orang yang berdomisili di Kecamatan Rote Selatan dengan sukarela datang memeriksakan diri ke Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao, kemudian direkomendasikan untuk dikarantina dan menjalani pemeriksaan oleh tim medis di Rusunawa Ne’e  sebagai pertimbangan bahwa keberadaan tempat karantina yang disediakan lebih layak dalam sterilisasi penyakit dan membantu masyarakat lainnya untuk tidak takut untuk diawasi secara baik setelah kembali dari Area Resiko. Demikian kata Jubir Pemkab Rote Ndao untuk penanganan Covid-19, dr. Widyanto P Adhy, M.Biomed, Sp.PD saat dikonfirmasi Kamis, (26/3/2020)

Lanjut dr. Widyanto P Adhy, M.Biomed, Sp.PD bahwa terdapat juga dua orang lainnya yang berstatus Orang dari Area Resiko berdomisili di desa Lentera Kecamatan Rote Barat Daya, dimana seharusnya menjalani karantina mandiri di rumah namun karena sering keluar rumah maka oleh petugas medis menyarankan untuk yang bersangkutan didiperiksa di Rusunawa Ne’e sebagai lokasi Karantina Penanganan Covid-19 dan selanjutnya yang bersangkutan diwajibkan untuk membuat pernyataan untuk dilakukan karantina mandiri dirumah dan diserahkan kembali kepada keluarga.

Upaya Pemerintah Kabupaten Rote  Ndao melalui Gugus Tugas sangat serius melakukan upaya pencegahan dan memberikan jaminan kepada masyarakat luas untuk berpartisipasi bersama dalam rangka melakukan isolalsi terhadap penyebaran penyakit dan bukan bermaksud secara sepihak mengkarantina seseorang.

Untuk itu pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Covid-19 Kabupaten Rote Ndao  juga menghimbau dan mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk proaktif dengan kesadaran dan tanggung jawab melaporkan diri dan keluarga lainnya bila mengalami gejala ataupun baru tiba dari lokasi zona merah Covid-19. Hal ini sebagai kepedulian untuk menjaga wilayah dan relasi yang sehat dan bebas dari virus di wilayah Kabupaten Rote Ndao.

Untuk diketahui bahwa sampai dengan saat ini Kamis, 26 Maret 2020 sudah terdapat 187 Orang dari Area Resiko (OAR) dan 20 Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Kabupaten Rote Ndao (dkisp)

Update Berita : 27/03/2020

namodale2

Penduduk

Kabupaten Rote Ndao dengan luas wilayah 1.280,10 km2 di diami penduduk sebanyak 165.807 jiwa, terdiri dari 84.283 jiwa laki-laki dan 81.524 jiwa perempuan, Penduduk ini tersebar di 10 (sepuluh) Kecamatan, yaitu Kecamatan Rote Barat Daya, Kecamatan Rote Barat Laut, Kecamatan Lobalain, Kecamatan Rote Tengah, Kecamatan Pantai Baru, Kecamatan Rote Timur, Kecamatan Rote Barat, Kecamatan Rote Selatan, Kecamatan Ndao Nuse dan Kecamatan Landu Leko.

Dari tabel dibawah terlihat bahwa jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Lobalain yaitu 30.043 jiwa (20,99%), sedangkan Kecamatan Ndao Nuse memiliki jumlah penduduk terkecil yaitu 4.315 Jiwa (3,01%).

 

Jumlah Penduduk menurut  Kecamatan dan Jenis Kelamin, Kabupaten Rote Ndao, Tahun  2016

Jika diperhatikan menurut jenis kelamin nampak bahwa penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Gambaran ini terlihat diseluruh kecamatan yang ada.   

Jumlah Penduduk, Luas Wilayah, dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Rote Ndao Tahun 2018

No 

Kecamatan

Penduduk 

Jumlah

Rasio Jenis Kelamin
Laki-lakiPerempuan
(1)(2)(3)(4)(5)
01.Rote Barat Daya13 79613 49727 293102
02.Rote Barat Laut15 67415 59031 264101
03.Lobalain17 73516 54134 276107
04.Rote Tengah5 6975 44611 143105
05.Rote Selatan3 6273 5267 153103
06.Pantai Baru8 7498 39217 141104
07.Rote Timur8 5058 21616 721104
08.Landu Leko3 2273 0516 278106
09.Rote Barat5 2205 04810 268103
10.Ndao Nuse2 0532 2174 27093
Kabupaten Rote Ndao              84 28381 524165 807103

Sumber : BPS Kab. Rote Ndao

 

Kepadatan Penduduk

Kabupaten Rote Ndao tergolong Kabupaten yang jarang penduduk, hal ini dapat dilihat pada tabel  dibawah ini, memperlihatkan kepadatan penduduk di Kabupaten Rote Ndao. Dengan luas 1.280,10 km2, Kabupaten Rote Ndaodidiami oleh 143.155 jiwa atau dengan kepadatan sebesar 112jiwa/km2.  Dengan kata lain rata-rata setiap km2 Kabupaten Rote Ndaodidiami sebanyak 112jiwa.

 Distribusi dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Rote Ndao. 2018

KecamatanPersentase PendudukKepadatan Penduduk per km2
(1)(2)(3)
01.Rote Barat Daya16,46238
02.Rote Barat Laut18,86181
03.Lobalain20,67235
04.Rote Tengah6,7269
05.Rote Selatan4,3197
06.Pantai Baru10,3497
07.Rote Timur10,08151
08.Landu Leko3,7932
09.Rote Barat6,1988
10.Ndao Nuse2,58301
Kabupaten Rote Ndao                    100130

Sumber : BPS Kab. Rote Ndao

Jika dilihat persebaran di setiap kecamatan nampak bahwa Kecamatan Ndao Nuse merupakan wilayah terpadat dengan kepadatan sebesar 301 jiwa/km2, diikuti oleh Kecamatan Rote Barat Daya sebesar 238 jiwa/km2, Kecamatan Lobalain 235 jiwa/km2, Kecamatan Rote Barat Laut sebesar 181 jiwa/km2, Kecamatan Rote Timur sebesar 151 jiwa/km2, Kecamatan Rote Selatan sebesar 97 jiwa/km2, Kecamatan Rote Pantai Baru sebesar 97 jiwa/km2, Kecamatan Rote Barat sebesar 88 jiwa/km2,  Kecamatan Rote Tengah yaitu sebesar 69 jiwa/km2, sedangkan wilayah dengan kepadatan terendah di Kecamatan Landu Leko sebesar  32 jiwa/km2

 

Laju Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk merupakan angka yang menggambarkan penambahan penduduk yang dipengaruhi oleh pertumbuhan alamiah maupun migrasi penduduk. Angka pertumbuhan penduduk dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah dan struktur penduduk beberapa tahun ke depan. Angka pertambahan penduduk Kabupaten Rote Ndao dapat dilihat pada tabel dibawah.  Data penduduk tahun 2015 yang digunakan adalah data Bulan Desember 2015 sedangkan data penduduk tahun 2016 menggunakan data Bulan Desember 2016.  Pertumbuhan penduduk yang dihitung merupakan pertambahan penduduk dalam kurun waktu dua belas bulan.

 

Angka Pertambahan Penduduk Kabupaten Rote Ndao Tahun 2018

 

No

 

Kecamatan

Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun (%)
2010-20182017-2018
01.Rote Barat Daya38,283,88
02.Rote Barat Laut38,293,89
03.Lobalain38,273,87
04.Rote Tengah38,283,89
05.Rote Selatan38,283,88
06.Pantai Baru38,273,87
07.Rote Timur38,273,88
08.Landu Leko38,283,89
09.Rote Barat38,273,87
10.Ndao Nuse38,323,92
Kabupaten Rote Ndao                               38,283,88

Sumber : BPS Kab. Rote Ndao

Angka pertumbuhan penduduk Kabupaten Rote Ndao termasuk sedang. Selama kurun waktu Desember 2017 sampai dengan Desember 2018, pertumbuhan penduduk Kabupaten Rote Ndao mencapai 3,88 persen. Angka pertumbuhan penduduk ini dihitung berdasarkan data.

Jika di lihat pada tabel diatas menurut kecamatan maka, pertumbuhan penduduk tertinggi di Kecamatan Ndao Nuse dan terendah di Kecamatan Lobalain, Pantai Baru dan Rote Barat.